Jika
kita bertanya kepada generasi tua Minangkabau yang mengenyam pendidikan
dasar
sekolah sekuler di
tahun 1930-an, mereka pastilah ingat dua tokoh
yang disebutkan dalam judul artikel ini: "Si Djamin" dan adiknya "Si
Piah". Keduanya adalah tokoh utama dalam seri buku pelajaran Bahasa
Minangkabau yang dipakai di sekolah-sekolah nagari dan sekolah-sekolah
pemerintah di Sumatra Barat pada tahun 1930-an. "Si Djamin" dan "Si
Piah" digambarkan sebagai dua orang bocah Minangkabau yang cerdas yang
tinggal di darek.
Seri buku pelajaran yang dimaksud adalah Lakeh Pandai (4 jilid), Kini Lah Pandai (4 jilid), dan Dangakanlah
(2 jilid). Pengarangnya bernama M.G. Emeis. Ia jelas telah ikut
mewarnai perjalanan sejarah Bahasa Minang. Namun, tulisan mengenai
dirinya dan studi mengenai seri buku pelajaran karangannya itu hampir
tak terdengar. Ini disebabkan oleh tidak adanya minat akademis untuk
mengkaji historiografi Bahasa Minangkabau (Baca: Suryadi, Historiografi Bahasa Minangkabau).
Marinus Gerardus Emeis lahir di Ammerstol, Belanda, pada 18 December
1884. Sejak semula pendidikannya diarahkan oleh orang tuanya untuk
menjadi guru. Ia tampaknya seorang anak yang cerdas. Tahun 1903-1906
Emeis muda telah menjadi seorang
guru di negaranya. Namun, jiwa mudanya
mendorongnya pergi ke Hindia Belanda untuk mencari peruntungan di tanah
jajahan yang menjajikan itu.
Tahun
1907 Emeis sudah berada di Hindia Belanda. Tanggal 18 Oktober tahun itu
ia diangkat oleh Pemerintah Kolonial menjadi guru Eropa kelas 3 di
Teluk Betung, Distrik Lampung (Regeerings-almanak 1910: II, 376). Kemudian mulai 2 September 1914 ia menempati pos baru sebagai guru bantu (hulponderwijzer) di Sekolah Pelatihan Guru-Guru Pribumi (Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzers) di Yogyakarta. Selanjutnya, pada 29 Juli 1916 ia dipromosikan menjadi direktur Sekolah Normaal untuk Guru Bantu Pribumi (Normaalschool voor Inlandsche hulponderwijzers) in Purwokerto.
Ringkasan lain tentang M.G. Emeis dan Kenangan Kepada "Si Djamin" dan "Si Piah"