Kebangkitan Penerbit Lokal di Sumatra Barat Awal Abad ke 20
Summary rating: 1 stars
1 Tinjauan
Kunjungan:
157
kata:
300
Diterbitkan di: September 06, 2007
Sejarah
percetakan buku di Indonesia dimulai pada tahun 1619 ketika pemerintah
kolonial Belanda menjadikan Batavia sebagai pusat kekuasaannya di
Hindia Belanda. Namun perkembangan percetakan di daerah ini dimulai
dengan kedatangan misionaris Inggris, Medhurst, ke Batavia pada tahun
1828. Ketika misionaris Amerika dan Inggris pindah ke Cina pada tahun
1840-an, percetakan itu ditinggalkan di Singapura dan dimanfaatkan oleh
Reverend Keasberry dan Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi (Putten, 1997:
717; Proudfoot, 1993: 13-14). Penerbitan mereka berdua menghasilkan
beberapa buku dengan pewarnaan dan edisi yang mewah pada waktu itu.
Proudfoot (1993: 678) mencatat buku awal yang dicetak dalam bahasa
Minangkabau adalah Malayan Miscellanies 1820-1822 (volume 2, fasc. 14)
dan kaba Cindur Mata pada tahun 1904. Malayan Miscellanies ditulis oleh
Dr. W. Jack dan terdiri dari dua volume. Volume pertama adalah syair
dalam bahasa Melayu yang bercerita tentang perjalanan Raffles ke
Minangkabau berjudul “Account of a Journey from Moco-Moco to Pangkalan
Jambi, through Korinchi in 1818” (Joustra, 1924: 1). Volume kedua
ditulis dalam bahasa Minangkabau setebal 8 halaman yang berisi
“ndang-Undang serta Keturunan Raja Moko-Moko Inderapura dari Darat”
(Proudfoot, op.cit.: 332). Dalam penyelidikan Proudfoot (op. cit.:
201-202), cerita Cindur Mata tersebut diterbitkan di Penang dalam
bahasa Minangkabau oleh penerbit Tuanku Haji Amin Aceh Sigli alias
Datuk Gadang Gurun Luak Tanah Datar Alam Minangkerbau. Tahun penerbitan
cerita ini adalah 26 Jumadilawal 1322 <8 Agustus 1904> atau menurut
konversi yang dilakukan Proudfoot sama dengan tanggal 18 Agustus 1904.
Meski percetakan cerita Cindur Mata ini dilakukan di Penang dan berumur
lebih muda, namun fakta bahwa bahasa yang digunakan adalah bahasa
Minangkabau ini membawa sebuah nuansa kesadaran penerbitan
cerita-cerita Minangkabau yang memiliki arti tersendiri dalam
perkembangan selanjutnya. Pada masa-masa awal perkembangan percetakan
dan penerbitan ini terutama marak di daerah Melayu (Malaysia, Singapura
dan daerah Riau).