Surau Sebagai Pusat Pencerdasan
Summary ratings: 3 stars
(xx voters)
Kunjungan:
66
kata:
300
Diterbitkan di: September 06, 2007
Surau
merupakan sub sistem dalam kehidupan masyarakat Minangkabau disamping
balai, labuah, dan tapian yang terdapat di dusun atau jorong. Selain
digunakan sebagai media untuk berbagai hal yang berkaitan dengan
kepentingan agama seperti pengajian, wirid, dan penulisan serta
penyalinan naskah-naskah keagamaan, surau juga dijadikan sebagai pusat
kegiatan masyarakat sehari-hari seperti tempat bermusyawarah, tempat
laki-laki tua Minangkabau istirahat, pelatihan silat, dan tempat
wanita-wanita tua yang ingin mengisi waktunya dengan lebih banyak
beramal.
Kehidupan surau di Minangkabau dipercayai hadir sebelum Islam, kemudian
semakin menguat setelah Islam masuk di daerah ini pada abad ke-16.
Dengan demikian, fungsi yang diemban oleh surau sebagai sebuah ruang
publik sangat penting. Surau menjadi sebuah lembaga untuk memproses
usaha pencerdasan dan sekaligus menyimpan nilai-nilai budaya
masyarakatnya. Oleh sebab itu suarau juga dapat dikatakan sebagai Pusat
Pencerdasan atau Centre for Excellent.
Namun,
beberapa dekade belakangan, surau tidak lagi mengemban fungsi seperti
yang diuraikan di atas. Dari pengamatan di lapangan, ratusan sarau yang
dulu pernah eksis di Sumatra Barat sekarang sudah tinggal nama. Hanya
segelintir surau yang masih menjalankan sebagian fungsinya, misalnya
hanya dijadikan oleh masyarakat setempat sebagai tempat shalat lima
waktu, atau hanya dipakai sebagai tempat mengaji Al-Qur''an bagi
anak-anak. Lebih banyak lagi surau yang dibiarkan lapuk dimakan rayap,
tidak terawat oleh masyarakat pemiliknya, yang pada akhirnya akan roboh