Sekali
tempo, penulis buku yang berjudul “Menyoal Wahdatul Wujud: Kasus Tanbih
Al-Masyi” karangan Syekh Abdurrauf Singkel, Oman Fathurahman,
berkunjung ke Padang. Ia terkejut tatkala mengunjungi seorang buya yang
tinggal di pinggiran Kota Padang, tepatnya di Batang Kabuang, Koto
Tangah.
Keterkejutannya beralasan, karena dalam tesisnya yang dijadikan buku
tersebut menyebutkan bahwa di dunia hanya terdapat empat
kitab Tanbih
Al-Masyi karangan Syekh Abdurrauf Singkel, tetapi ternyata buya
tersebut juga memiliki kitab itu, malahan buya itu sendiri yang
menyalinnya.
Buya yang dimaksud bernama Imam Maulana
Abdul Manaf.
Beliau tinggal di sebuah surau yang terletak bersebelahan
dengan Pesantren Madrasah Tarbiyah Islamiah (PMTI). Beliau merupakan
sosok yang dermawan. Tanah seluas lebih kurang lima hektar kepunyaannya
disumbangkan untuk pendirian PMTI.
Sejak muda hingga di usia senjanya sekarang, beliau masih aktif
menulis. Puluhan kitab sudah beliau tulis baik tentang biografi
(Sejarah Syekh Burhanuddin Ulakan,
Sejarah Syekh Abdurrauf Singkel,
Sejarah Syekh Pasiban, Sejarah Syekh Surau Baru, dan lain-lain),
sejarah (Sejarah Perkembangan Islam di Minangkabau), Ilmu Hisab (Kitab
Al Taqwim) maupun ajaran-ajaran tarekat syatariah (Kitab Ziarah Kubur
ke Makam Syekh Abdurrauf Singkel, Mizan Qulub dan lain-lain).
Ringkasan lain tentang Imam Maulana Abdul Manaf: Manusia Langka Dari Minangkabau