Nenek-Nenek Pelanjut Tradisi “Sagalo Bagandang”
Tukang tulih Yusriwal Sutan BandaroPakan, 11 Desember 2004 - 13:53 / As-Sabt, 28 Shawwal 1425 H
Jorong Galogandang masih berselimut kabut, sisa embun yang turun setiap malam,
masih terlihat sebagai bintik-bintik bening di dedaunan dan rerumputan.
Mentari
tidak memperlihatkan wajahnya yang garang, bersembunyi di balik
bukit yang mengitari Jorong Galogandang. Jangan berharap dapat melihat
matahari
pagi di sini. Di samping terhalang oleh perbukitan di utara,
kabut dan embun pagi tidak memberi ruang pemandangan kepada siapa pun
untuk dapat mengintip matahari pagi. Suasana
seperti ini cukup
memberikan hawa dingin.
Jorong Galondang terletak di lereng gunung Sago, di bagian utara, dalam
kanagarian Andaleh, Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Koto.
Letaknya lebih kurang 15 km
dari Kota Payakumbuh arah ke timur. Sebelah
utaranya terdapat hamparan bukit-bukit, sehingga Galogandang seperti
terkurung.
Kata “Galogandang” berasal dari kata “sagalo
bagandang” disebabkan oleh cara membuat membuat gerabah dengan
memukul-mukul tanah liat, seperti orang memumukul gendang.
Dalam sergapan suasana pagi, jalan-jalan jorong sudah mulai ditapaki
para petani menuju sawah atau empang mereka, dan perempuan-perempuan
tua yang pulang dari masjid atau surau.
Salah seorang diantara mereka adalah Nurhayati (barangkali lebih tepat
disebut Nek Nurhayati). Garis-garis di wajah, lipatan-lipatan kulit di
lengan dan betisnya yang tidak tertutup kain, seolah bercerita kalau
pemiliknya sudah cukup lama hidup dan sudah kenyang dengan asam
garamnya kehidupan. Dengan linggis di tangan kanan dan buntalan karung
di tangan kiri, tanpa alas kaki, Nek Nurhayati menapaki jalan jorong
menuju sawah, tempat mengambil locah (tanah liat).
Sumber: www.ranah-minang.co
Ringkasan lain tentang Nenek-Nenek Pelanjut Tradisi “Sagalo Bagandang”