Planit Biru Terancam Bencana Kekurangan
Pangan Gema Tindaklanjut Konferensi Bali (Bloknota : Kohar) BRUSSEL, 1 September 2007. Tidak. Ini bukan percikan karya fiksi, bukan pula gosip tentang bahaya berupa ancaman akan kekurangan pangan
atau bahan makanan, melainkan
soal serius. Soal hidup mati. Pasalnya ancaman tersebut bukan dalam skala Gunung Kidul atau Desa Alor Tengah ataupun Cigersang alias Kalimati Ciputat saja, melainkan seantero Planit Biru alias Bola Dunia
kita nan indah ini. Pasalnya ? Cuaca Bola
Bumi semakin lama semakin memanas. Dampaknya ? Semakin berkurang kawasan tanah untuk bercocok tanam. Demikianlah inti gara-garanya yang didengung-gemakan dari ruang ruang sidang internasional, seperti yang berlangsung di Wina dan Jenewa di bawah bimbingan lembaga prestisius Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), di ujung Agustus 2007. Forum internasional yang dilangsungkan pada 27-31 Agustus di Wina dianggap sebagai tindak-lanjut keputusan Konferensi Bali di bulan Desember tahun lalu. Sidang yang dihadiri oleh seribu utusan dari 158 negara itu sepakat akan perlunya upaya untuk menurunkan secara drastis dampak negatif pemanasan cuaca kolong langit dunia. Bagian bagian kawasan bumi mengering, sawah-ladang mengurang, maka pangan yang dihasilkan pun otomatis mengurang pula adanya. Dalam pada itu, penduduk dunia malah semakin berkembang-biak saja adanya. « Dewasa ini kita memberi makan penduduk dunia berjumlah 6,3 milyar, » demikian diingatkan oleh V.K. Sivakumar, periset dari OMM – Organisation Météorologique Mondiale. Seperti yang dilansir Reuters 31 Agustus 2007. Teriring pertanyaan penting lagi berkaitan dengan soal genting : « Apakah kita akan mampu mengempani 8,2 milyar orang – menurut perhitungan hingga tahun 2020 ? » Suatu pertanyaan besar lagi mendasar, penting lagi genting, sekaligus tantangan bagi seluruh umat manusia – terutama sekali kaum penguasa atau pihak-pihak yang bertanggungjawab di muka bumi kita ini. *** (Akibr)
Ringkasan lain tentang Planit Biru Terancam Bencana Kekurangan Pangan