Pantangan Suku di Nagari Gunung Malintang, Pangkalan Koto Baru
Summary ratings: 3 stars
(xx voters)
Kunjungan:
140
kata:
300
Diterbitkan di: September 01, 2007
Di
zaman kolonial banyak pegawai swasta dan militer Belanda menyalin atau
mencatat cerita-cerita yang terkait dengan kepercayaan tradisional
masyarakat berbagai suku bangsa di Hindia Belanda (Indonesia sekarang),
tak terkecuali di Minangkabau. Catatan-catatan tersebut bukan dikarang
(-karang) sendiri oleh orang-orang Belanda, tetapi justru mereka
"menyelamatkan" cerita lisan milik nenek moyang kita itu ke dalam
bentuk tulisan (catatan di atas kertas) sehingga kita yang hidup
sekarang masih dapat mengetahuinya.
Oleh karena itu saya kira agak kurang tepat komentar saudara "murniemil" yang mengomentari cerita Orang Jadi-jadian
yang disalin oleh J.L. van der Toorn dan disadur oleh Anas Nafis. Van
der Toorn yang pernah lama tinggal di Bukittinggi pada akhir abad ke-19
mencatat cerita itu (dan beberapa cerita lainnya) berdasarkan penuturan
sahabat-sahabat (informan) Minangkabaunya. Cerita tersebut termuat
dalam artikel Van der Toorn: "Babagai-bagai Tjoerito nan Dipitjajoi
Oerang Melaijoe Tanah-Darè'' Alam Minangkabau (Verscheidene Verhalen
omtrent het Bijgeloof van de Malaiers in het Land Minangkabau)", Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 25 (1879):441-59 (pada hal.446). Murniemil (komentar tanggal 10 September 2004 jam 12:31) mengatakan: "Iko
salah satu peninggalan Bulando untuak marusak aqidah umat Islam. Inyo
indak suko awak manjalankan Islam sacaro kaffah. Kalau bisa awak nyo
suruah awak maninggakan Al Qur''an, dan pacayo ka nan mistik. Sahinggo
awak jadi takuik ka hantu indak takuik ka tuhan Allah." (kursif oleh Suryadi).