Selain
Tiku, Pariaman dahulu adalah pelabuhan samudera tertua yang handal di
pantai barat pulau Sumatra. Semenjak dikuasainya Malaka
oleh Portugis
pada
tahun 1511, kemudian bertambah ramainya alur pelayaran di Selat
Malaka oleh berbagai armada dagang bangsa asing yang saling bersaing,
peran Tiku, Pariaman dan Indrapura menjadi penting terutama bagi
Kerajaan Aceh.
Awal abad 17 Kerajaan Aceh menanamkan pengaruhnya di pantai Barat
Sumatra dengan maksud memotong arus perdagangan rempah-rempah terutama
lada, yang biasanya dibawa oleh para pedagang ke wilayah timur pulau
ini. Waktu itu, penguasa Aceh yang kesohor dan berkuasa di kawasan ini
bernama Panglima Nando. Karena peran yang demikian, maka banyaklah kaum
pendatang yang mengadu nasib mencari nafkah dan bermukim di kota kecil
ini.
Keberadaan para pendatang di Pariaman "
doeloe"
itu masih terlihat pada
nama jalan atau
kampung seperti Kampung Nieh,
Kampung Kaliang, Kampung Jawa dan Kampung Cino. Tidak ada nama kampung
Belanda, meskipun mereka lama berkuasa di kota ini seperti juga di
daerah lain di Nusantara ini. Yang ada di Pariaman ialah Kampung
Kuburan Belanda!
Sampai sekarang, nama jalan itu masih
dikenal baik oleh penduduknya. Tentu saja pemberian nama tersebut
bukanlah berarti bahwa kota yang dikenal banyak urang bagaknya ini tidak memperbolehkan bangsa kulit putih berkampung di sana, kecuali untuk dikubur.
Anas Nafis, Serba-Serbi Pariaman "Tempo Doeloe"
Sekitar tahun 1860 Pariaman merupakan tempat kedudukan Regen dan
Asisten Residen (Tuan Luak). Kemudian pada tahun 1880 diturunkan
menjadi tempat kedudukan Kontrolir
(Tuanku Mandua) dan Tuanku Laras. Sedangkan jabatan jabatan Regen
dihapus. Tahun 1914 pangkat Tuanku Laras dihapus pula dan digantikan
engku Demang yang mengepalai sebuah distrik. Terhitung 1 Januari 1936 Onder Afdeeling Pariaman yang merupakan bagian Afdeeling Tanah Datar membawahi:
Ringkasan lain tentang Serba-Serbi Pariaman "Tempo Doeloe"