Maraknya
semangat “Kembali Ke
Surau” belakangan ini, ada baiknya kita telaah
terlebih dahulu model pendidikan ala surau tersebut, teristimewa
mengenai perkembangan karakter remaja “tempo doeloe” ketika menimba
ilmu di surau itu.
Arti Kata Surau
“Indak surau bakeh nyo mangaji lai”
(tiada surau tempat ia mengaji lagi). Maksud peribahasa ini ialah
mengenai seseorang yang telah pandai
atau mengenai suatu barang yang
sangat bagus tiada bandingnya.
“Bak ayam naiak ka surau”, “Bak batandang ka surau”
(Bagai ayam naik ke surau. Bagai bertandang ke surau). Maksudnya jamu
tidak mendapat
apa-apa, baik berupa minuman apalagi
makanan di rumah
yang didatanginya. (Karena surau tidak mempunyai dapur untuk memasak
atau tidak ada perempuan yang tinggal di sana. Jadi tidak ada remah
yang
akan di makan ayam atau makanan yang akan disungguhkan kepada tamu
- Anas Nafis).
Demikian antara lain tertulis dalam kamus susunan M. Thaib Gelar ST. Pamoentjak, terbitan Balai Poestaka Batavia 1935.
Dalam
Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan W.J.S. Purwadarminta - Balai
Poetaka 1984 “surau” diartikan sebagai tempat sembahyang (sholat),
mengaji dan langgar.
Ringkasan lain tentang Surau, Dimana Ia Sekarang