Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Puisi Baudelaire Kepada Pembaca Musuh Kejenuh-jengkelan

.

Puisi Baudelaire Kepada Pembaca Musuh Kejenuh-jengkelan

Summary rating: 3 stars 1 Tinjauan
Pengarang : A.Kohar Ibrahim
Summary by : akibr
Kunjungan : 195  kata: 900   Diterbitkan di: Agustus 22, 2007
Puisi Boudelaire Kepada Pembaca
 
Kemunafikan Dari Kejenuhan
 
Musuh Utama Manusia
 
Oleh :
A.Kohar Ibrahim
 
ADALAH macamnya karya seni, apakah lagu ataukah bacaan yang senantiasa merdu dan senantiasa menyenangkan dibaca atau didengar ulang-ulang. Begitulah, saya sajikan salah sebuah contohnya, yang saya petik dari berkas-berkas kreasi sastra Charles Baudelaire (1821-1867). Sebuah kreasi puisinya berjudul “Kepada Pembaca”. 
 
Kenapa? Pasalnya, selagi dan semakin hari kita memperhatikan lagu manusia, baik di bumi Nusantara maupun di sejagad alam dunia, apa yang diangkat-ungkap karaya sang pendekar puisi modern Perancis itu terasa amat memikat. Maka dibaca ulang berulang-ulang pun daya pikatnya malah semakin mencengkam. Lukisan sang penyair secara puitis itu sepertinya bukan dalam situasi-kondisi abad Ke-XIX, melainkan di awal abad Ke-XXI dewasa ini!
 
Pada dasarnya, daya pikat yang merupakan gugahan sekaligus gugatan itu memang tak lain tak bukan berasal dari perihal yang mendasar. Yakni dari dasar jatung hati manusia. Manusia dengan segala sifat kemanusiawiaannya pun yang berlawanan dengannya selagi dalam perjalanan menghayati kehidupannya. Kehidupan dalam segala makna keaneka-ragaman bentuk, warna, irama dan nuansanya. Dari yang sederhana sampai pada yang paling rumit, dari yang menyenangkan sampai yang paling membosankan, menjengkelkan atau ramuan keduanya: kenjenuh-jengkel-an. Dalam situasi-kondisi mana manusia berupaya untuk mencari jalan keluar dengan aneka ragam cara – dengan ketabah-tenangan dan berhasil, atau dengan kepanikan, kalap, nekad, avontur hingga terbentur kebuntuan atau kegagalan. Dalam alur jelujur mana seringkali manusia secara sadar ataukah tidak berperilaku pura-pura atau munafik. Bersandiwara atau berakting, melagak-melagu dengan mengenakan jubah dan topeng! Yang terselenggarakan di mana mana saja yang dimungkinkan. Di ruang ruang tertutup atau terbuka. Di perumahan biasa atau di kamar-kamar hotel berbintang-bintang mewah. Di ruang ruang perkantoran atau di gedung gedung megah institusi resmi. Di pesawat terbang atau di lift gedung tinggi. Dan lain sebagainya lagi. Apakah berpakaian lengkap jas dan dasi ataupun berbusana penutup aurat dari kepala sampai mata kaki, tak urung, selain yang keseriusan juga teriring kepura-puraan atau hipokrisi. Segalanya, semata-mata dalam rangka daya upaya untuk menemukan solusi ataukah sebagai pelarian dari lingkaran setan yang merupakan musuh bebuyutan: kejenuh-jengkelan di jalan kehidupan.
 
Coba, kita simak bersama, lagi dan sekali lagi, himbauan penyair Baudelaire “Kepada Pembaca”, dengan seksama, sebagai berikut:
 
Kepada Pembaca
 
Kedunguan, kesalahan, dosa dan kekikiran,
Menghuni jiwa kita dan menggeluti raga kita,
Dan menjadikannya santapan penyesalan halus kita,
Seperti pengemis memberi makan kaum terhina mereka.
Dosa-dosa kita pembandel, ketobatan kita pengecut ;
Kita bayar sendiri dengan mahalnya pengakuan kita,
Dan kita pulang dengan girang di lorong berlumpur
Percaya dengan tangis pura-pura bisa menghapus dosa.
Di telinga keburukan adalah Setan Trismegis
Yang melobang lama lama jiwa senang kita,
Dan logam adi kemauan kita
Dan semua diuapkan oleh ahli kimia ini.
Adalah iblis pemegang talikendali kita!
Pada benda-benda menjijikkan kita temukan daya tarik ;
Tiap hari tiap tapak kita turun ke Neraka,
Tanpa takut melalui kegelapan bau busuk.
Demikian serupa sorang miskin senggama dan makan
Payudara korban dari pelacur tua,
Kita mau sambil lalu kenikmatan selingkuh
Yang kita peras sekeras-kerasnya bak jeruk rapuh.
Berdesakan, berkerumunan, bak sejuta ulat-jahat,
Dalam otak kita gentayangan gerombolan Iblis,
Dan, saat kita menarik nafas, Kematian di ruang jantung,
Turunlah, sungai siluman, dengan gerutu menulikan.
Jika perkosaan, racun, belati, kebakaran,
Belum lagi dihias oleh gambaran mereka yang menyenangkan
Kain setramin biasa nasib kita yang menyedihkan
Hal itu karena jiwa kita, aduhai! Tak cukup tangguh.
Tetapi di antara para serigala, macan tutul, ajing buruan,
Monyet, kalajengking, gagak, ular,
Raksasa melengking-lengking, berteriak-teriak,  merangkak,
Dalam kandang memalukan sifat-sifat buruk kita,
Ada satu yang lebih jelek, lebih jahat, lebih kejam-keji!
Meski ia tak mendorong tindakan kasar pun tidak teriak keras,
Ia hanya menjadikan tanah debu
Dan dengan sekali penguapan kan menelan dunia ;
Itulah Kejenuh-jengkelan! – mata menanggung tangisan terpaksa,
Ia mimpikan panggung tiang-gantungan sembari hisap houka.
Dikau mengenalnya, pembaca, raksasa peka ini,
-- Pembaca munafik, -- se sama ku, -- saudara ku!
 
*
BARIS baris kata puitis Charles Baudelaire « Kepada Pembaca »  (Au Lecteur) yang saya terjemahkan dari bahasa aslinya, Perancis, itu adalah merupakan semacam Prakata dari bukunya yang masyhur «Les Fleurs du Mal ». Diterbitkan pada tahun 1857 yang dinilai sebagai tonggak sejarah “texte fondateur d’une nouvelle esthétique”. Merupakan teks atau naskah pembinaan estetika baru kesusastraan Perancis. *** (Akibr)

Ringkasan lain tentang Puisi Baudelaire Kepada Pembaca Musuh Kejenuh-jengkelan
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------