JIN Victor Hugo Oleh : A .Kohar Ibrahim NASKAH catatan ringkas ini disusun dalam suasana kepengapan
kehidupan masyarakat teriring kehingarbingaran lagak-lagu manusia. Prtilaku manusia di muka bumi ini,
dengan ragam macam kehipokrisian berkaitan soal keperawanan dan marak merembaknya aksi kekerasan sampai pada aksi-teror atas kreasi puisi. Justeru, tergugah oleh keterkaitan yang disebut belakangan ini – karya puisi berupa sajak – yang dengan baris-baris kata metafora mengungkapkan lagak-lagu manusialah, saya jadi tergelitik untuk menyajikan kembali sebuah sajak dari berkas-berkas kreasi puisi Victor Hugo berjudul : « Les Djinns ». « Jin » atau « Para Jin ». « Jin »
adalah sajak Vitor Hugo yang meonumental, sekaligus bukti dari sekian banyak ragam bukti, betapa kaitan puisi dengan kehidupan kerohanian dan keseharian masyarakat manusia. Bukti, bahwa bagi penyair atau seniman dan sastrawan, adalah soal lumrah meyebut sekaligus mengangkat-ungkap kehidupan masyarakat manusia dalam kaitannya dengan makhluk-makhluk ciptaan Tuhan lainnya : Malaikat, Jin, Syaitan sampai pada para Nabi dan Manusia yang aneka ragam macamnya. Victor Hugo :
Jin Tembok tembok, kota / Dan pintu, / Asil / Yang mati, / Laut kelabu / Di mana bersilir / Silir angin laut / Semua tertidur / Di dataran rendah / Lahir desah. / Adalah nafas / Malam hari. / Dia mengeluh kukuh / Serupa sebuah jiwa / Seperti lidah api / Senantiasa nyala. Suara yang lebih tinggi / Bagaikan gemetaran. / Dari seorang cebol yang melompat / Adalah lari cepat cepat. / Dia kabur, melambung, / Lantas gerak berirama / Dengan satu kaki menari nari / Di ujung gelombang pasang. Desas desus mendekat, / Gemanya mengulang bilang. / Adalah seperti lonceng / Dari biara terkutuk, / Seperti suara berisik gerombolan orang / Yang kian mengeras kian melaju, / Dan kadang tertumbang / Dan kadang membesar. Tuhan! Suara kematian / Jin ! ... – betapa kebisingan mereka ciptakan! / Lari tunggang langgang dalam bentuk lingkar spiral / Dari tangga tangga yang dalam ! / Lampu ku telah padam, / Dan bayangan sandaran tangga, / Yang sepanjang tembok merangkak, / Naik hingga ke langit-langit. Itu adalah segerombolan jin yang lewat / Dan angin puting beliung yang melengking. / Pohon pohon if yang terhempas terbangan mereka, / Terpecah belah bagai pohon pohon cemara membara. / Gerombolan mereka yang berat lagi cepat / Terbang di angkasa hampa, / Bak mega biru kelabu / Yang di sisinya terbawa mata petir. Mereka dekat sekali! – Tetap tutup kuat kuat / Ruang di mana kita menantang mereka / Betapa berisiknya di luar! Tentara suram-seram / Naga dan hantu penghisap darah! / Balok atap rumah terkuak / Melengkung sedemikian rupa bak rumput basah. / Dan pintu tua karatan, / Gemetar, tak tahan menahan pitam. Teriakan neraka! Suara jerit dan tangis! / Gerombolan yang ganas, terbawa angin dingin keras, / Tanpa ragu, oh langit! Runtuh di atas rumah ku. / Tembok meliuk di bawah kehitaman batalyun / Rumah menggereyot dan ruangan miring / Dan orang bilang lantai terenggut, / Maka diusir nya sehelai daun kering, / Angin memutarnya dengan sang taufan! Nabi! Jika tangan mu menyelamatkan ku / Dari setan siluman malam malam ini, / Ku kan datang sembahyang / Di hadapan dupa-dupa suci mu! / Lakukanlah di depan pintu pintu setia ini, / Padamkan hembusan kilat api mereka, / Dan supaya kuku sayap mereka sia-sia belaka / Berderak memekik tertumbuk kaca-jendela hitam ini! Mereka berlalu! – Rombongan mereka / Terbang dan kabur, dan kaki mereka / Berhenti menendangi pintu ku / Dengan tendangan bertubi-tubi. / Udara tercengkam bising dencing mata-rantai, / Dan di hutan rimba berdekatan / Menggeletar semua pohon pohon cemara besar, / Di bawah terbangan kabur mundur mereka! Dari kejauhan sayap sayap mereka / Kepakan mengurang, / Sedemikian samar-samar di dataran rendah, / Sedemikian samar-samarnya terkesankan / Bagaikan belalang Meneriakkan suara lengking panjang, / Atau ringkik-ringgih belalang, / Di atas sekring genting tua. Suku-suku kata aneh / Sampai lagi pada kita: / Bahwasanya orang orang Arabia / Pabila terompet kumandang, / Sebuah lagu pemogokan, / Seketika bangkit berdiri, / Dan sang anak yang mimpi / Impian-impian keemasan. Jin jin pekuburan, / Anak kematian, / Di alam gelap kelam / Melaga langkah mereka; / Gerombolannya menggerung; / Sedemikian, mendalam, / Desah gelombang / Tak tertampak pandang orang. Suara alunan / Yang tertidur, / Adalah alunan / Di tepian; / Adalah gerutuan / Nyaris habis / Seorang suci / Bagi seorang mati. Orang ragu / Malam ... / Ku dengar : -- / Semua kabur, / Semua berlalu; / Ruang angkasa / Menyapu / Suara. * Sajak Victor Hugo : « Les Djinns » in Le Livre d’Or de la Poésie française, edition Marabout Université, Paris. Diterjemahkan dari bahasa aslinya, Perancis, oleh A.Kohar Ibrahim. *** (Akibr)