Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Sastrawati S. Rukiah Keteladanan Yang Langka

.

Sastrawati S. Rukiah Keteladanan Yang Langka

Summary rating: 2 stars 2 Tinjauan
Pengarang : A.Kohar Ibrahim
Summary by : akibr
Kunjungan : 253  kata: 900   Diterbitkan di: Agustus 20, 2007
Sastrawati S. Rukiah Keteladanan Yang Langka
 
Dalam Kreativitas Sastra
 
Oleh: A.Kohar Ibrahim
 
 
BENAR.  S. Rukiah memang salah satu sosok sastrawati  yang saya sayang-hormati dan menjadi teladan. Keteladanan bukan saja dalam kreativitas, tetapi juga dalam pembinaan idaman-impian saya akan sosok perempuan yang ideal. Perempuan dengan segala keperempuannya.
 
Berkenaan dengan kepribadian seorang sastrawati seperti S. Rukiah, saya akui bahwa memang tidak bisa tidak mencatat aktivitas dan kreativitasnya dalam memoar pribadi saya sendiri. S.Rukiah yang pernah menjadi sekretaris dan anggota redaksi Pujangga Baru pimpinan Sutan Takdir Alisjahbana bersama para pengarang lainnya seperti Cahiril Anwar, Rivai Apin, Asrul Sani, Achdiat Karta Mihardja, Dodong Djiwapradja, Harijadi S. Hartowardojo dan lain-lainnya lagi.
 
S.Rukiah yang kemudian menjadi anggota pengurus pusat Lembaga Sastra Indonesia, Lekra. Menjadi redaktur penerbit Yayasan Kebudayaan Sadar sekaligus mengelola majalah untuk anak-anak "Kutilang" dari penerbit yang sama.
 
S.Rukiah yang selain menulis puisi juga menulis esei dan cerpen,  dengan buku-bukunya yang telah diterbitkan: Tandus (Balai Pustaka, 1952), Kisah Perjalanan Si Apin (Grafica), Teuku Hasan Djohan Pahlawan (Grafica 1957), Kejatuhan dan Hati (Balai Pustaka, 1959), Djaka Tingkir (Balai Pustaka, 1962).
 
Pakar tentang sastra Indonesia yang terkemuka, Prof. A. Teeuw telah memberikan catatan sepantasnya mengenai kreativitas S.Rukiah, terutama dua bukunya yang masing-masing berjudul Tandus dan Kejatuhan dan Hati. Yang kedua itu itu merupakan kisah yang bersifat otobiografis dan yang secara otentik menggambarkan wanita modern Indonesia dengan segala problematikanya.
 
Seorang pakar muda Inggris, Annabel Teh Gallop, bukan saja telah membuat catatan  melainkan bahkan mengangkat karya-karya S. Rukiah sebagai bahan disertasi.
 
Sedangkan penyair dan sastrawan sekaligus juga pakar sastra Indonesia dan Sunda Ajip Rosidi dalam bukunya Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia, selain menyatakan bahwa di antara pengarang wanita yang tak banyak itu, hanya S. Rukiah yang dikenal baik sebagai penulis prosa maupun puisi. Juga menandaskan: "Bahkan sajak-sajaknya yang dimuat dalam bukunya Tandus (1952)  mendapat hadiah sastra nasional B.M.K.N. tahun 1952 untuk puisi." Tulis Ajip, seraya menambahkan: "Tapi sebenarnya ia lebih berhasil sebagai pengarang prosa. Kecuali cerpen-cerpen yang juga dimuat dalam Tandus, ia menulis sebuah roman yang berjudul Kejatuhan dan Hati (1950). Dalam kisah itu dilukiskannya perasaan seorang wanita yang jatuh cinta kepada seorang politikus tetapi kemudian terpaksa kawin dengan pedagang pilihan ibunya."
 
Saya ingin menggaris-bawahi hal-ihwal yang diutarakan baik oleh pakar Belanda A. Teeuw maupun pakar Indonesia Ajip dalam kaitannya dengan karya tulis Kejatuhan dan Hati S. Rukiah itu. Yakni betapa signifikannya makna sebuah hasil seni sastra yang memihak atau yang engage itu. Bahwa apa yang diungkapkan oleh S. Rukiah adalah benar karena bertolak dari realitas yang dipadu dengan daya imajinasi dalam menciptakan karya fiksi yang otobiografis! Hingga kebenaran yang diungkap dan tersajikan dalam karya sastra itu menjadi kebenaran tersendiri di alam dunia sastra.
 
Ada kebenarannya memang, bahwa sampai pada masa karya itu ditulis, adalah perjuangan kaum wanita modern dengan segala problematikanya seperti sikap-pendirian orangtua (ibu) yang bertabrakan dengan sang anak. Hal mana kiranya, sekalipun sudah setengah abad sejak itu, sikap-pendirian sedemikian itu masih hidup sampai pada saat ini. Sekalipun Indonesia sudah mengenal Hak-hak Azasi Manusia sejak pada mulanya. (HAM dari PBB sudah di-Indonesia-kan dan diterbitkan sejak 1950).
 
Yang menarik lainnya, juga benar dalam kenyataannya, sang tokoh kisah Kejatuhan dan Hati itu memang jatuh cinta pada seorang politikus. Yang dalam kehidupan nyata senyatanya adalah Sidik Kertapati, salah seorang sosok penjuang Angkatan''45 dan sosok tokoh di zaman Sukarno. Yang menjadi suami Rukiah beneran. Itulah realita-nya. Namun dalam karya fiksi otobiografis itu, yang mengawini tokoh utama adalah seorang pedagang!
 
Maka, bagi saya, S. Rukiah dengan karyanya itu, bukan saja telah memberikan contoh yang jelas tegas mengenai seniman-seniwati engage tapi juga telah memberi keteladanan dalam penulisan karya fiksi yang otobiografis. Seperti contoh-contohnya adalah karya prosa dan puisi yang saya sebutkan dia tas itu.
 
Iya. Saya ulang-bilang atau garis-bawahi bahwa dalam kreativitas seni sastra, baik dalam bentuk prosa maupun puisi, dalam memilih mengungkapkan tema sekalian cara-gaya-nya, bagi saya S Rukiah merupakan teladan. Suatu keteladanan yang langka di dalam lembaran sejarah kesusastraan Indonesia. Hal mana telah-lebih jauh menggelitik hati dan pikiran saya, hingga terasosiasi pada pekerja kebudayaan lainnya, seperti penyair 4 zaman: Hr. Bandaharo. Dengan kreasi puisinya yang erat berkaitan dengan keintimannya pada perempuan yang dikasih-sayanginya. Isterinya.
 
Sungguh menyedihkan, sungguh memprihatinkan memang, bahwa putera-puteri Agustus yang terbaik, pekerja kebudayaan pula, pada masa-masa kedewasaan dan kematangannya harus mengalami bencana dari kekuasaan tiranika. Yang membikin mereka terpinggirkan, terpenjara, terbuang dan tersiksa secara berkepanjangan. Tersiksa baik selama dalam tahan, dalam tanah buangan, eksilan, maupun setelah keluar; baik selama jaya-jayanya rezim lalim Orde Baru, maupun setelah kekuasaan itu tumbang, dan bahkan sampai sesudahnya. Bahkan, sampai sebagian dari mereka meninggal dunia pun ketidak-adilan masih terus mengikutinya. Mereka meninggal dunia, juga sekalian membawa dosa-dosa yang dicapkan oleh penguasa, malah masih diiringi rasa ketakutan dan prasangka yang buruk bahkan dari kalangan keluarga maupun para mantan kanca-konconya sendiri yang terkena racun fitnah, kecemburuan, kecurigaan dan kebencian yang tak tertuntaskan.
 
Budaya dusta-fitnah, kebencian, kekerasan dan ketakutan yang ditumbuh-kembangkan rezim Orde Baru sudah sedemikian rupa parahnya dalam meracuni kehidupan masyarakat Indonesia, sepertinya sudah merupakan besi yang karatan. Racun budaya atau budaya racun warisan Orba itu bahkan bukan tak sedikit mengidapi sementara kaum keluarga para korbannya.
 
Maka dari itulah, dalam melacak adanya gejala atau fenomena ke-des-integrasi-an, ke-kurang atau bahkan ke-tidak-rukunan kehidupan kekeluargaan diantara kalangan mantan tapol Orba, seharusnya diingat segi ini pula. Termasuk di dalamnya perihal  ketragisan yang dialami pasangan Eska-Rukiah – dalam periode akhir perjalanan hidup mereka. Suatu ktragisan yang kontras dengan kemonumentalan hasil aktivitas-kreativitasnya yang cemerlang. *** (Akibr)

Ringkasan lain tentang Sastrawati S. Rukiah Keteladanan Yang Langka
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------