Romantisme Engagée Sastrawati S. Rukiah
Oleh : A.Kohar Ibrahim
MEMANG benar, bawasanya S. Rukiah yang adalah salah seorang tergolong sastrawati Angkatan’45 itu lebih dikenal sebagai pengarang prosa, kebanding puisi. Namun, tak urung, hasil kreasi puisinya cukuplah signifikan karena mengesankan. Mengesankan karena mampu menggugah, menyetuh hati dan pikiran. Dan pada sisi lain, kiranya tak bisa disangsikan, bahwa dia pun tergolong pengarang engagée – pengarang yang berpihak. Malah, mengesankan romantisme engagée.
Dengan contoh menonjolnya karya prosa berjudul « Kejatuhan Dan Hati », sedangkan karya puisi berupa sajak berjudul «
Kenangan Gelita. »
Sajak « Kenangan Gelita » yang amat menyentuh perasaan dan pikiran saya sehingga merupakan dorongan atau inspirasi menimbulkan karya tulis saya berupa cerpen berjudul « Yang Mencintai Cinta » itu selengkapnya seperti di bawah
ini.
Kenangan Gelita (I) Malam ini aku mau lagi bercerita, / dan bila cerita ini satu-satu kutulis dengan jariku / buatmu cuma jadi satu cerita kegelitaan / ketika malam kosong berpisahkan dengan bulan Seperti juga kita di hari kini / di mana batas sampai tepi langit di jauhan / di mana segala anak-anak manusia / terima satu perintah yang melanggar ini batas / di sini kita berpisah / antara dinding penjara dan pegunungan Aku lihat di celah besi-besi kaku tak bercerita ini / Engkau diburu macam hantu pelarian / jauh ke sana di antara daunan kering yang berjatuhan / di mana teriakan suara makin kecil hilang-hilang / sedang aku di balik terali dingin / tergolek mau bermimpi malam kenangan. (II) Biar sekali ini aku tak ada melihat laut / kapal-kapal juga semua sudah berlayar / angin lari dan bintang tidur satu-satu / tapi aku tak bepergian suaramu / meski malam selalu warnanya hitam / sebab lantai dingin dan tembok putih ini / sekali-kali ia mau memberikan jalan / buat angin pagi dari suara pegunungan. Dan bila angin itu bisa kembali sebelum mati / akan kupinta satu pena kuno yang runcing / serta tinta merah yang selalu basah tak kering-kering / dan biarlah aku akan bikin satu cerita panjang-panjang / atau menulis sajak yang banyak / meskipun dikatakan: ini bukannya cerita Tuhan! (III) Tapi pernahkah melintas di tempatmu / malam kenangan di malam gelita pegunungan ? / Pabila ada juga padamu / di antara rintik-rintik hujan senjat / atau bunga-bunga hutan yang berserakan / tak kan kuhabiskan kenangan ini / biarlah akan kususun cerita ini dari malam ke malam lagi / tak peduli aku jadi gadis tua di balik penjara / Karena sekali kenangan ini akan berakhir / kita bertemu di antara meja dan bunga merah / sambil minum air yang bergula manis-manis. Kita mulai bercerita dangkal-dangkal tak tahu bentuk / dan aku akan ketawa dan ketawa ! / hingga berakhir dengan cerita kenangan gelita ini / ketika malam kosong berpisahan dengan bulan. (IV) Tapi bila malam satu pagi / bulan itu masih tampak seperti gambar sabit emas / atau bintang-bintang seperti bunga tanjung kecil-kecil / inilah mungkin waktunya aku buka cerita panjang / atau aku bacakan sajak penjara yang dulu / dan pengalaman hidup yang panjang penuh dengan luka-luka. Cuma di sini / masih ada yang mau aku katakan : / Engkau memang diburu, tapi bukan pelarian / aku memang di penjara, tapi bukan manusia kurungan / Kita bukan orang pelarian yang / masing-masing tidak punya suatu dunia. Tapi Eska ! / Kenanglah sekali cerita kenangan ini / bila engkau telah cape menginjak batu-batu pegunungan / atau telah benci mendengar cerita darah / atau cerita maut, dan cerita busukan manusia / engkau akan tulis di satu buku harian : / kita dua manusia yang cinta kepada cinta! MENYIMAK ataukah mendengar pendeklamasian baris-baris puitis gubahan S. Rukiah, itu tak ayal lagi lah kita bisa merasakan betapa suasana perjuangan putera-puteri Revolusi Agustus 1945 dengan segala semangat kepahlawanannya. Semangat kesukarelaan dan keteguhan untuk menghancurkan rantai belenggu kolonialisme demi mewujudkan kemerdekaan bangsa dan rakyat Indonesia.
Sajak tersebut di atas, seperti pernah saya utarakan dalam serial esai Catatan Dari Brussel, adalah contoh tipikal dari kreasi sastra
engage. Dapat disimak dengan jelas keberpihakan sang penyair, seperti halnya karya-karya Chairil Anwar dan yang lainnya lagi. Keberpihakan atau ke-engagée-an Rukiah itu sekaligus mensiar-pancarkan suara hatinuraninya, keromatisannya, pada sang kekasih Eska. Yang tak lain tak bukan adalah S-K alias Sidik Kertapati. Salah seorang tokoh pejuang yang sejati, pembina Laskar Rakyat Jawa Barat bersama para pejuang lainnya seperti Astrawinata dan Armunanto.
Iya, saya ulang bilang, bahwa membaca ulang sajak S. Rukiah « Kenangan Gelita » itu, maka segera tergugah pula kenangan kita kepada kedua sosok tokoh Angkatan’45 – sepasang merpati pejuang kemerdekaan bangsa dan rakyat Indonesia – yang seorang dengan memanggul senapang, yang seorang lagi menggenggam senjata pena. Mereka adalah putera-puteri terbaik bangsa dan rakyat Indonesia, yang telah turut aktip menggoreskan lembaran Sejarah Kemerdekaan Republik Indonesia. *** (Akibr)
Ringkasan lain tentang Romantisme Engagée Sastrawati S Rukiah