Sajak « Malaikat » Saeful Badar Yang Tetap Hadir
Oleh :
A.Kohar Ibrahim
PRIBASA Perancis « la parole s’envole, l’écrit reste » -- omongan mabur tulisan menetap -- kiranya pas sekali untuk teks
Sajak karya penyair Saeful Badar yang telah menjadi « kasus » pemberangusan dan menjadi perhatian dari sejumlah penulis, jurnalis, penyair dan seniman Indonesia dewasa ini.
Seperti saya utarakan
dalam catatan ringkas terdahulu, bawa di zaman sekarang, aksi-pemberangusan dalam kasus sajak « Malaikat-Pikiran Rakyat »
itu sia-sia saja. Karena, sekalipun sajak itu itu telah dihapus dari edisi online ruang budaya Khazanah PR dan diumumkan oleh yang bersangkutan sebagai tak pernah ada, namun sudah terlanjur disiar-sebarkan baik dalam edisi cetak suratkabar tersebut maupun edisi online-nya. Tegasnya : sajak tersebut, sekalian tulisan-tulisan lainnya yang termuat dalam Pikiran Rakyat hari Sabtu tanggal 4 Agustus itu sudah sempat sampai pada pembacanya.
Kiranya, bisa saya garis-bawahi, bahwasanya sajak berjudul « Malaikat » karya penyair Saeful Badar itu sudah jadi « milik » pembacanya. Dan di antara pembaca itu, pastilah ada peminat atau pemerhati kreasi kesusastraan Indonesia, yang menyimpannya. Tersimpan apakah berupa guntingan-koran atau kliping, ataukah disimpan dalam sarana ordinatur atau PC-nya. Apalagi, karya sastra yang kena berangusan itu tidak setebal buku pun bukan karya puisi yang panjang, melainkan pendek saja. Cuma terdiri dari baris judul dan tujuh baris pendek isinya, seperti di bawah ini :
Malaikat Mentang-mentang punya sayap
Malaikat begitu nyinyir dan cerewet
Ia berlagak sebagai
makhluk baik
Tapi juga galak dan usil
Ia meniup-niupkan wahyu
Dan maut
Ke saban penjuru
2007
Begitulah. Begitu saja adanya sajak yang jadi pangkal kehebohan, yang bisa dikutip dari suratkabar Pikiran Rakyat edisi cetak, 4 Agustus 2007, halaman 30, ruang kebudayaan Khazanah. Begitu sederhana, ringkas namun bernas. Ringan dibaca namun dalam dan luas makna.
Baris-baris kata sajak itu memang begitu jernih, begeitu terang, kehadirannya – sepertinya tanpa tedeng aling-aling,
dengan kesederhaannya. Memang seringkali, untuk menghasilkan suatu gubahan yang sederhana namun dalam maknanya tidaklah mudah. Lantaran, bisa diperkirakan, bagaimana proses pengendapan dari observasi
sang penyair yang bermata hati dan bermata pikiran yang tajam. Meski memang rasanya terasa, betapa dia menunjukkan ketajaman ujung-pena-nya atas permasalahan yang timbul dalam kehidupan masyarakat
manusia yang ragam-macam. Tapi per-tunjuk-annya tidak lantas sarat tudingan apa pula makian gratis – selain menunjuk-nunjuk pertunjukan yang penting lagi genting, namun masih terasa kandungan nada humor mengiring keseriusannya. Dengan baris-baris kata puitis sekaligus satiristis yang mudah dicerna makna maupun nuansanya.
Tiada terkesankan kandungan penghinaan akan Malaikat, selagi kita memahami apa makna Malaikat sebagai salah satu macam makhluk ciptaan Allah. Sebagai makhluk yang merupakan Kekuatan yang patuh pada ketentuan dan pada perintah Allah. Makhluk yang tak pernah berbuat dosa. Kita meyakini adanya Malaikat, seperti Jibril sang penyampai wahyu pada para Nabi dan Rasul Allah SWT; Mikhail sang pembagi rezeki kepada seluruh makhluk, yang juga menurunkan hujan; Israfil sang peniup sangkakala (terompet) pada hari kiamat; Israil sang pencabut nyawa seluruh makhluk; Munkar dan Nakir sang pemeriksa amal perbuatan manusia di alam kubur; Raqib sang pencatat amal baik manusia ketika hidup di dunia; Atid sang pencatat amal buruk manusia ketika hidup di dunia; Malik sang penjaga neraka dengan bengis dan kejam; Ridwan sang pejaga sorga dengan lemah lembut.
Begitulah para Malaikat, makhluk yang berbeda dengan makhluk ciptaan Allah lainnya, seperti Jin dan Manusia. Meskipun Jin pernah memiliki posisi penting di sisi Allah dan jadi pemimpin para Malaikat, namun kemudian menjadi makhluk yang terkutuk lantaran berani membantah perintah Allah – oleh karena itulah disebut Iblis. Makhluk lainnya yang tidak berwujud seperti Manusia, namun berada di antara Manusia, adalah Syaitan alias tukang membohong. Sedangkan makhluk ciptaan Allah yang berwujud yang disebut Manusia, kita tahu sifat maupun tingkah-ulahnya bisa baik bisa pula macam-macam keburukannya. Baiknya Manusia yang terbaik kerap dikiaskan (bukan identik) seperti perbuatan Malaikat; sedangkan buruk keburukannya tak ubahnya seperti perbuatan Jin atau Iblis atau Syaitan.
Dengan bahan pertimbangan (yang saya pinjam dari Wekipedia Indonesia) itu, dalam menyimak sajak berjudul “Malaikat” karya Saeful Badar itu, tidak terkesankan pada saya bahwa sang penyair itu sedang asyik mengungkapkan sifat atau prilaku sang Malaikat dengan segala maknanya sebagai makhluk yang mentaati aturan dan perintah-Nya. Sebaliknyalah – yang terkesankan adalah bagaimana makhluk yang namanya Manusia itu, bisa berlagak-lagu kayak Malaikat. Melagak seperti, tapi tidak identik terbukti. Karena memang kenyataan dalam karya seni itu tidak identik dengan kenyataan apa adanya. Melainkan semacam kenyataan obyektif di dalam kandungan kesenian itu sendiri. Karena hasil kreasi kesenian, apa pula puisi dengan segala variasi metafora-metamorfose-nya, bukanlah suatu hasil jepretan foto pun bukan hasil fotokopy.
Seiring dengan itu, kita tahu pula, bahwa pengungkap-angkat-an tema Malaikat dalam kesenian, khususnya kesusasteraan, bukanlah soal baru. Begitulah, Saeful Badar bukan yang pertama dan satu-satunya sosok penyair yang melakukan hal itu, melainkan hanya salah seorang saja dari sekian banyak penyair, penulis dan seniman di kolong langit ini. Masing-masing dengan cara-gaya selaras kemampuannya sendiri, tentu saja. *** (Akibr)
Ringkasan lain tentang Sajak "Malaikat" Saeful Badar Yang Tetap Hadir