Kata si empunya cerita, suatu
hari di zaman dulu yaitu kira-kira empat
ratus tahun yang silam, ada seorang gadis suku Sikumbang negeri Koto
Gadang pergi ke Pahambatan
mencari mensiang. Karena teriknya matahari
ia kehausan. Maka berjalanlah ia kian kemari mencari air pelepas
dahaga, namun
belum juga ditemukan.
Nasib mujur,
tampaklah seonggok air tergenang di atas daun talas lalu diminumnya,
maka lepaslah dahaganya. Sesudah melepaskan lelah sejenak, ia
melanjutkan pekerjaan mencari mensiang. Setelah dianggap cukup,
pulanglah ia kenagarinya Koto Gadang.
Syahdan tidak lama semenjak mereguk air di daun talas tsb, hamillah sang
perawan dan hebohlah penduduk nagari itu.
Karena kejadian yang memalukan itu, bermusyawarahlah anak nagari di
permedanan yang bernama Gobah. Mereka berunding mencari kata sepakat,
hukuman apakah yang akan dijatuhkan kepada sang perawan yang hamil
tanpa bersuami tsb.
Belum lagi putus permufakatan, tiba-tiba turun hujan bagai dicurahkan
dari langit yang disertai
pula petir sabung bersabung. Orang banyak
bubar, mufakat hari
itu gagal membuat keputusan.
Pada keesokan hari mereka berkumpul pula di permedanan Balai Gadang
hendak mendengar putusan apakah yang akan dijatuhkan pada sang perawan
yang hamil tersebut.
Seperti kemarin pula, belum lagi putus kesepakatan, tiba-tiba turun
pula hujan lebat disertai angin ribut yang ditingkahi suara petir
bergemuruh. Orang banyak berlarian menyelamatkan diri, maka gagal
pulalah mufakat hari itu.
Ringkasan lain tentang Tuanku Yang Keramat