Adapun yang diakui sebagai
orang bunian itu ialah orang yang menjadi
dukun juga. Seolah-olah dukun itu sahabat karib orang bunian
tersebut.
Bilamana dukun itu memerlukannya, maka dipanggillah orang bunian
tersebut dengan syaratnya. Tak lama
kemudian datanglah hantu orang
bunian itu memenuhi panggilan sang dukun.
Andaikata di kampung itu ada seseorang menderita sakit berkepanjangan,
maka pergilah ia ke dukun itu meminta obat. Sudah barang tentu seperti
biasanya semua persyaratan yang diminta sang dukun dipenuhi
pula.
Tatkala sampai di rumah dukun, si sakit memberi salam dan berkata:
“Oo engku, maksud hamba datang kemari ialah hendak meminta obat. Hamba ingin tahu penyakit yang hamba derita. Kalau tasapo (ditegur setan atau arwah), di mana terjadinya dan apa pula obatnya. Tolonglah hamba ini, engku..!”
“Baiklah, akan kita coba melihatnya. Tetapi bersabarlah agak tiga hari
ini, boleh kita siapkan kelambu untuk tempat berunding dengan beliau
niniak kita” kata sang dukun pula.
Seperti yang telah dijanjikan, tiga hari kemudian datang pula si sakit
dan dilihatnya kelambu telah terpasang di rumah dukun tersebut.
Sesaat kemudian masuklah sang dukun ke dalam kelambu itu sambil berpesan kepada yang hadir dalam bilik:
“Hai, nanti kalau kalian melihat apa-apa, jangan kalian sapa dan jangan
siasati. Diam-diam sajalah, tak lama lagi beliau akan datang!”
Maka sekalian orang di situ bapakak samiang-lah
(berpekak saja) tanpa menoleh ke kiri maupun ke kanan. Benar saja tak
lama kemudian terdengarlah suara dukun itu berbisik-bisik. Berarti sang
niniak orang bunian itu telah berada pula dalam kelambu itu. Hanya
suara bisikan dukun itu saja yang terdengar. Konon dukun itu sajalah
yang dapat berkomunikasi dengan hantu sang bunian tersebut.Tulis ringkasan Anda di sini.
Ringkasan lain tentang Orang Bunian