Adalah
sebuah nagari dalam lingkungan perintah Tuan Luhak Tanah Datar bernama Tanjung Sungayang.
Menurut riwayat, pada masa dahulu ada seorang anak nagari daerah
itu mandapek (mendapat) sebuah
batu istimewa lagi bertuah. Warnanya gelap seperti tembaga, besarnya kira-kira sebesar kecapi.
Karena batu itu dapek (dapat),
lalu dinamakan Batu Pandapekan. Karena sering diangkat-angkat oleh yang ingin tahu bagaimana nasibnya dikemudian hari, maka batu itu disebut pula Batu Angkek-Angkek (Batu Angkat-Angkat). Konon kabarnya tidaklah semua orang mampu mengangkatnya.
Kini batu itu disimpan di
rumah penemunya dalam sebuah bilik di
atas sebatang kasur pandak (kasur pendek). Bila seseorang ingin mengetahui
bagaimana untung atau nasibnya di kemudian hari, maka pergilah ia ke
rumah itu dengan membawa sari pitih (uang), sirih-pinang dan kemenyan.
Setelah bawaan tersebut dipersembahkan, lalu sang pemilik mengambil
batu tsb dari tempatnya dan diletakkan di atas sebuah talam lalu
dilimauinya (dibasuh dengan air jeruk). Sementara itu dibakar pula
kemenyan putih dan diedarkan sebanyak tiga kali sekeliling batu
tersebut.
Ringkasan lain tentang Batu Angkek-Angkek