Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Kemerdekaan Pembredelan Pers

Kemerdekaan Pembredelan Pers

oleh: akibr     Pengarang : A.Kohar Ibrahim
ª
 
Kemerdekaan Pembredelan Pers Oleh : A.Kohar Ibrahim JIKA kemerdekaan dimaknai kebebasan, dalam kaitan dengan pers, tentang ada tiadanya kebebasan pers – sebenarnya kebebas-merdekaan itu senantiasa ada. Pasalnya, kata ahli pikir, bagaimana mengetahui kemerdekaan atau kebebasan itu berada di tangan siapa. Dalam sejarah kehidupan masyarakat manusia sejak adanya kekuasaan negara, perihal keberadaan pers, menjadi ciri penting untuk menunjuk apakah kekuasaan itu zalim atau tidak ; diktator, otoriter bahkan totaliter ataukah tidak. Di mancanegara, banyak contohnya, bagaimana ragam macam penguasa negara bersikap terhadap pers. Apakah itu di negara-negara Asia, Afrika, Amerika Latin ataukah di negara-negara Eropa dan Amerika. Sang penguasa zalim dengan bebas merdeka untuk menggunakan dengan mengendalikan, menghegemoni bahkan memonopoli pers untuk kepentingan perebutan kekuasaan dan melanggengkan kekuasaan dalam genggamannya. Seiring dengan itu, dengan bebas merdeka melakukan pembredelan pers yang mengancam kekuasaannya – sampai pada membui bahkan membunuh pekerja pers yang dianggap sebagai lawan politiknya. Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia untuk mematahkan rantai belenggu penguasa penjajahan, termasuk di dalamnya juga betapa pentingnya para pejuang pers. Seperti dibuktikan oleh pelopornya R.M. Tirto Adhisoerjo dan Mas Marco Kartodikromo serta yang lainnya lagi. Yang dengan gagah berani tampil dengan segala resikonya, dari resiko pembredelan, masuk bui sampai dibuang ke tanah buangan Boven Digul. Dalam perihal pembredelan dari penguasa zalim itu, adalah contoh yang cukup menggelitik hati dan pikiran. Yakni, jangankan karena karya tulis pemberitaan atau analisis sosio-politik, namun hanya lantaran menyiar baris-baris karya puisi saja pun, penguasa penjajah Belanda pernah mengancam eksistensi suratkabar « Persatoean Hindia » Semarang. Iya, hanya baris-baris puitis sebagai berikut ini : « Lamalah soeda Hindia terperintah Ampir poeloeh abad mengalah Hari2 Regering memerintah Kaoem miskin dibikin sampah Ingatlah kita hidoep tertindas Topeng Regering sangatlah manis Apakah goena kita menangis Baek melawan seranglah habis ». Demikianlah, dua bait syair itu ! Seperti yang disiar ulang di halaman budaya Lentera suratkabar Bintang Timur, yang dikelola Pramoedya Ananta Toer, dan yang disitir esais Alan Hogeland (Kreasi N° 24). Maka Raden Aluwi Tjitroatmodjo dan Ismail Mangunprawiro dari suratkabar « Persatoean Hindia » itu dijatuhi hukuman oleh pengadilan penjajah Belanda Semarang 10 Maret 1921. Hal mana, mengingatkan kita pada masa-masa paling suram dalam zaman Orde Baru, betapa arogansi kekuasaan telah dengan sewenang-wenang menggunakan kebebas-merdekaan pers yang dihegemoninya : apakah untuk melakukan penangkapan terhadap penulis, mengirimkan jurnalis ke dalam bui ataukah sampai pada pembredelan penerbitan bersangkutan. Dengan modal utama : Teror Ketakutan yang diciptakannya. Semata-mata demi kekuasaan, mengabsahkan kekuasaan dan melindungi kekuasaannya. *** (Akibr)
Diterbitkan di: 07 Agustus, 2007   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.