"Apo
Internet ko, lai indak indomie telur jo kornet pulo..." begitu canda
Pak Anas Nafis ketika pertama kali bertemu di Dewan Kesenian Sumatra
Barat, sekitar Agustus 2004 silam. Saat
itu, Nasrul Azwar, sekretaris
DKSB, memperkenalkan saya dengan Pak Anas Nafis, yang
tulisan-tulisannya banyak dipublikasikan di Ranah-Minang.Com ini. Adik
kandung sastrawan Ali Akbar Navis itu begitu hangat, sehingga kami bisa
cepat
berbincang-bincang.
Berbincang dengan Pak Anas Nafis memang mengasyikan. Cara beliau
bercerita yang "mengajak" lawan bicaranya ikut serta, membuat kita
tidak
akan pernah merasa bosan. Begitu banyak bahan obrolan yang
dimilikinya, sehingga tidak terasa waktu berjam-jam pun telah
terlewati. Saat berbincang tentang Minang dan Sumbar, Pak Anas akan
menjelaskannya panjang lebar. Apalagi kalau dilakukan di
rumah kontrakan yang ditempatinya, Pak Anas akan memperlihatkan buku atau
kliping koran yang tertata rapi di sebuah rak.
Cukup
sering saya berkunjung ke rumah Pak Anas. Ribuan literatur dan
referensi dimiliki Pak Anas. Hanya sebagian kecil yang bisa saya baca,
karena kebanyakan dalam bahasa Belanda atau tulisan Arab - Melayu.
Kadang Pak Anas menelpon saya meminta tolong perbaiki komputer tuanya
yang suka ngadat, malah monitor komputernya pun kadang mesti dipukul
agar dapat bekerja dengan baik.
"Kok
ado dana apak, tolong carian monitor second ciek yo, Gufron," kata Pak
Anas saat itu. yang terus bercerita sejarah Minang dan Sumbar sambil
menemani saya bekerja.
Begitulah Anas Nafis. Di rumah
kontrakannya itu, Anas Nafis menyimpan 520 judul buku terbitan sebelum
Perang Dunia II, ribuan kliping koran dan majalah, serta 800-an lebih
gambar dan foto tempo dulu yang ia repro sendiri, dan disimpan di
komputer tuanya. Sebagai pensiunan, kemampuan finansial Anas Nafis
terbatas, sehingga keinginan mengganti komp
Ringkasan lain tentang Anas Nafis Dalam Kenangan: "Referensi" Sumbar Yang Dilupakan