Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Degradasi Kepemimpinan Adat di Minangkabau

Degradasi Kepemimpinan Adat di Minangkabau

oleh: NasrulAzwar     Pengarang : Prof. Bustanuddin Agus
ª
 
Ninik mamak, para penghulu dan orang Minang bernostalgia untuk kembali menjadi pemimpin yang kuat dan berwibawa seperti sebelum masuknya penjajah? Berwibawa seperti era kerajaan Pagaruyung sebelum bercokolnya penjajah Belanda? Bukankah sekarang sudah reformasi dan otonomi? Bukankah Sumatra Barat sekarang sudah kembali ke sistem pemerintahan nagari? Wibawa dan kekuasaan ninik mamak di zaman raja-raja Pagaruyung sebelum kedatangan penjajah demikian kuat. Raja-raja Pagaruyung hanya berkuasa secara simbolis sebagai pemersatu untuk dapat dikatakan ada Minangkabau yang berpagarkan adat. Nagari-nagari lah yang berkuasa secara praktis. Nagari-nagari merupakan republik-republik kecil (petty states) dalam Kerajaan Minangkabau. Sistem desentralisasi dan musyawarah untuk mufakat mempermantap kekuasaan ninik mamak karena mereka berhasil menggalang partisipasi publik. Dalam kepemimpinan ninik mamak ketika itu tidak ada warga suku yang tidak berguna. Indak tukang mambuang kayu... nan pakak palapeh badia, na buto paambuih lasuang... Semua orang dihargai menurut kemampuannya. Harta tidak terlalu dipermasalahkan karena kehidupan masyarakat di nagari dari pertanian dan perdagangan tradisional tidak menimbulkan kecemburuan sosial seperti era kapitalistik sekarang (dahulu budi nan ditanyo, kini ameh nan paguno). Tanpa budi, kok kayo awak, kayo surang selah, urang indak kamintak; kok cadiak awak cadiak surang selah, urang indak kabatanyo. sumber: www.ranah-minang.com/tulisan/349.html Memutuskan kebijakan dengan musyawarah, berdasarkan alua jo patuik, dan alam takambang jadi guru menjadikan kepemimpinan ninik mamak Minangkabau demikian dihormati karena mereka juga menghargai dan sangat memperhatikan anak kemanakan. Tidak ada dualisme kekuasaan antara pemerintah dan pemuka adat seperti di zaman penjajahan dan kemerdekaan ini. Konflik kepentingan dengan menjamurnya partai politik juga tidak ada. Pendidikan anak kemenakan tidak melebihi pendidikan ninik mamak, sehingga tidak ada ninik mamak yang terhimpit gengsi. Adab, sopan santun, budi bahasa, raso jo pareso, lamak di awak katuju di urang adalah pakaian sehari-hari masyarakat. Karena semuanya itu,
Diterbitkan di: 06 Agustus, 2007   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.