Ninik
mamak, para penghulu dan orang Minang bernostalgia untuk kembali
menjadi pemimpin yang kuat dan berwibawa
seperti sebelum masuknya
penjajah? Berwibawa seperti era kerajaan Pagaruyung sebelum bercokolnya
penjajah Belanda? Bukankah sekarang sudah reformasi dan otonomi?
Bukankah Sumatra Barat sekarang sudah kembali ke sistem pemerintahan
nagari?
Wibawa dan kekuasaan
Ninik mamak di zaman raja-raja Pagaruyung sebelum
kedatangan penjajah demikian kuat. Raja-raja Pagaruyung hanya berkuasa
secara simbolis sebagai pemersatu untuk dapat dikatakan
ada Minangkabau
yang berpagarkan adat. Nagari-nagari lah yang berkuasa secara praktis.
Nagari-nagari merupakan republik-republik kecil (petty states)
dalam Kerajaan Minangkabau. Sistem desentralisasi dan musyawarah untuk
mufakat mempermantap kekuasaan ninik mamak karena mereka berhasil
menggalang partisipasi publik. Dalam kepemimpinan ninik mamak ketika
itu
tidak ada warga suku yang tidak berguna. Indak tukang mambuang
kayu... nan pakak palapeh badia, na buto paambuih lasuang... Semua
orang dihargai menurut kemampuannya.
Harta tidak terlalu
dipermasalahkan karena kehidupan masyarakat di
nagari dari pertanian
dan perdagangan tradisional tidak menimbulkan kecemburuan sosial
seperti era kapitalistik sekarang (dahulu budi nan ditanyo, kini ameh
nan paguno). Tanpa budi, kok kayo awak, kayo surang selah, urang indak
kamintak; kok cadiak awak cadiak surang selah, urang indak kabatanyo.
sumber: www.ranah-minang.com/tulisan/349.html
Memutuskan kebijakan dengan musyawarah, berdasarkan alua jo patuik, dan
alam takambang jadi guru menjadikan kepemimpinan ninik mamak
Minangkabau demikian dihormati karena mereka juga menghargai dan sangat
memperhatikan anak kemanakan. Tidak ada dualisme kekuasaan antara
pemerintah dan pemuka adat seperti di zaman penjajahan dan kemerdekaan
ini. Konflik kepentingan dengan menjamurnya partai politik juga tidak
ada. Pendidikan anak kemenakan tidak melebihi pendidikan ninik mamak,
sehingga tidak ada ninik mamak yang terhimpit gengsi. Adab, sopan
santun, budi bahasa, raso jo pareso, lamak di awak katuju di urang
adalah pakaian sehari-hari masyarakat. Karena semuanya itu,
Ringkasan lain tentang Degradasi Kepemimpinan Adat di Minangkabau