Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Anwar St. Saidi: Putra Minang Penggagas Bank Nasional

.

Anwar St. Saidi: Putra Minang Penggagas Bank Nasional

Summary rating: 3 stars 2 Tinjauan
Pengarang : Suryadi
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 129  kata: 600   Diterbitkan di: Agustus 06, 2007
Orang
Minang memang pedagang tulen dari dulu, tapi mereka pakai sistem
tradisional: uang dan emas disimpan dalam peti atau karung,
disembunyikan di tempat yang aman di kedai atau di rumah. Jarang yang
mau berurusan dengan bank dan asuransi. Jika terjadi kebakaran,
misalnya, uang dan harta benda mereka bisa licin tandas dilalap
"sigulambai", seperti dicatat dalam Kitab Sjair Pasar Kampoeng Djawa
Padang terbakar Pada 5 Juli 1904 oleh Mohamad Thahar galar Radja
Mangkoeta (Padang: De Volharding, 1906): "Habis segala barang dagangan
/ oeang dan emas beriboe etongan / tidak berapa dapat pertoeloengan /
menjadi aboe sampai bilangan" (hal.2). Namun, di tahun 1930-an
muncul gagasan dari seorang putra Minang untuk mendirikan bank guna
memajukan usaha perdagangan dan perekonomian urang awak. Siapa dia
kalau bukan Anwar St. Saidi.



 Lahir di Sungaipua tanggal 19 April 1910, pendidikan formal Anwar St.
Saidi tidaklah tinggi benar: setelah tamat sekolah dasar 5 tahun (Goevernement 2de klas)
di Payakumbuh, Anwar, sebagaimana biasanya para pemuda Sungaipua,
terjun ke dalam usaha dagang dan kerajinan. Ia berdagang kain di kota
Bukittinggi. Mamaknya, Zaini Sutan Rajo Ameh, adalah pedagang babelok
di Sumbar yang menjual kain hitam dan kemudian juga batik. Anwar
sendiri sering bolak balik ke jawa untuk mengurus bisnisnya. Anwar
bukan hanya berdagang ke Jawa, tetapi juga pergi belajar: orang yang
sering didatanginya untuk belajar dan berdiskusi adalah HOS
Cokroaminoto dan juga para pimpinan Syarikat Islam. Di dalam
diskusi-diskusi yang diikutinya di Jawa itu, Anwar bertemu dengan
Soekarno, H. Agus Salim dan khususnya Mohammad Yamin. Anwar dan Yamin
adalah dua sahabat yang pemikiran-pemikiran mereka saling
pengaruh-mempengaruhi. Kedekatan mereka ini sangat tampak ketika betapa
beberapa bulan setelah Yamin meninggal, Anwar masih lebih banyak
mengurung diri di kamar karena berduka.


Usaha dagang
Anwar beroleh kemajuan. Pada tahun 1920-an ia sudah ulang-alik ke Jawa
mengurus bisnisnya. Angin nasionalisme yang sedang berhembus kencang
pada waktu itu juga membakar jiwa Anwar. Pada masa itu semangat
nasionalisme bisa menghinggapi jiwa kaum muda yang berpikiran maju,
baik mereka yang berpendidikan akademis maupun yang bergerak di jalur
swasta, misalnya perdagangan, seperti yang ditunjukkan oleh pemuda
Anwar.

Ringkasan lain tentang Anwar St. Saidi: Putra Minang Penggagas Bank Nasional
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------