Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Puisi Kemerdekaan WS Rendra

Puisi Kemerdekaan WS Rendra

oleh: akibr     Pengarang : A.Kohar Ibrahim
ª
 
Puisi Kemerdekaan WS Rendra Oleh : A. Kohar Ibrahim SUDAH tentu yang mengalami penindasan dan beragam penderitaan lainnya bukan hanya orang-orang atau penyair semacam HR Bandaharo saja. Pramoedya Ananta Toer, sastrawan terbesar Indonesia, seperti halnya Bandaharo juga pernah dibuang di Pulau Buru dan mengalami beragam penindasan selain perampokan atas harta-benda milik pribadinya sendiri. Rezim Orba adalah rezim otoriter yang menghegemoni segala bidang kehidupan dengan kekerasan bersenjata beserta lembaga intel yang luar biasa. Selain gerbong utamanya berupa orpol Golkar yang dominan sekalian orpol-orsospol rekayasa lainnya sebagai pendukung pelengkapnya. Semuanya demi menaklukkan massa rakyat dan kepentingan melanggengkan kekuasaan hasil rampokannya (kudeta). Sementara kaum budayawan umumnya, seniman, sastrawan dan penyair sampai yang paling intelektual atau berpendirian bebas-merdeka sekalipun mesti tunduk pada politik rezim Orba dpp the Smiling General itu! Maka jika ada yang coba-coba membandel akan segera kena bredel! Tak peduli apakah si pembandel itu sebagai grup atau lembaga seperti media massa ataukah dari perseorangan seperti penyair. Dalam hal ini, salah satu contohnya yang masyhur adalah budayawan sekaligus penyair besar Indonesia WS Rendra. Di alam budaya kekerasan Orba selama lebih dari tiga dasa warsa itu bahkan seorang semacam Rendra juga tak luput dari segala tingkah ulah arogansi penguasa yang biadab. Rendra bahkan pernah masuk bui (Mei 1978 - Oktober 1979), selain berulang kali mesti berurusan dengan penguasa hanya lantaran hasil karya puisi dan pembacaannya. Yang paling menghebohkan adalah yang berkenaan dengan 2 sajaknya yang masing-masing berjudul "Demi Orang-Orang Rangkasbitung" dan "Doa Seorang Pemuda Rangkasbitung di Rotterdam". Kedua sajak itu dilarang pembacaannya di Taman Ismail Marzuki 8-9 Nopember 1990. Seperti terurai dalam artikel yang saya turunkan dalam Kreasi nomor 7 1991. Mengapa penguasa sedemikian ketakutan bahkan hanya terhadap puisi? Sekalipun yang diutarakan kreasi seni itu hanyalah berupa pertanyaan? "Pertanyaan yang wajar-wajar saja," kata Rendra menjelaskan pada majalah "Pelita" (10 Nopember 1990). Pertanyaan yang tidak menyalahi hukum dan undang-undang. Lanjutnya: "Kalau rakyat tidak mempunyai hak hukum untuk menghadapi adipati-adipati yang baru, apa itu namanya bangsa merdeka. Negara Anda sudah merdeka, tapi apa bangsa Anda sudah merdeka? Kalau bangsa Anda tidak punya hak hukum, apakah bisa disebut bangsa yang merdeka?" Ya, tumpuan masalahnya memang di situ. Pada pertanyaan yang hakiki tentang kemerdekaan itu. Apalagi jika disimak pengungkapan puitis Rendra dalam dua sajak itu memang mempersoalkan hal-ehwal mendasar - selain kemerdekaan juga keadilan bagi rakyat. Dan keyakinan Rendra, tiadanya kemerdekaan dan keadilan, dalam sejarah, selalu akan melahirkan orang-orang semacam Multatuli. Maka dari itulah, selain dijuluki si Burung Merak, penyair kelahiran Solo 1937 ini juga mendapat julukan si Aku Yang Menderita alias Multatuli. Masih segar dalam ingatan saya, bagaimana gegap gempitanya sambutan umum terhadap Rendra pada malam "Puisi di bawah Represi" sepuluh tahun lalu di Amsterdam. Suatu kegiatan kebudayaan yang tak lepas dari rangkaian perjuangan demi kemerdekaan, demokrasi dan hak-hak azasi manusia itu juga ikut serta penyair tenar yang mengalami represi Orba lainnya, yakni Sitor Situmorang. Sedangkan pelukis Basuki Rsobowo (konconya Affandi dan Soedjojono) menyemarakkan acara yang mengesankan itu dengan pameran karya-karya lukisnya yang bertema kerakyatan. Dan pada masa itu pula Rendra menerima Hadiah Wertheim (Wertheim Encourage Award - dari Stichting WP Wertheim). Suatu penghargaan cukup bermakna lagi bersejarah yang diterimanya bersama penyair lainnya yang juga kelahiran Solo (1963): Wiji Thukul. Penghargaan dari luarnegeri, apalagi justeru dari Negeri Kincir Angin itu, memang cukup signifikatif dan tepat bagi para penyair yang menyuarakan aspirasi kemerdekaan dan keadilan bagi rakyat Indonesia. *** (Akibr)
Diterbitkan di: 06 Agustus, 2007   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    lha, mana puisinya? Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    mana puisinya Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    mna cih puisi na? Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    lho? mana pusinya? Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    puisinya manaaaaaaaaaaaaaaa....... Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    mana puisi.y ..???? Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.