• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Puisi Kemerdekaan HR Bandaharo

.

Puisi Kemerdekaan HR Bandaharo

oleh : akibr     

Pengarang : A.Kohar Ibrahim
Puisi Kemerdekaan HR Bandaharo
Oleh : A. Kohar Ibrahim
PERIODE kudeta merakak itu adalah juga merupakan
lembaran hitam berupa teror putih yang paling dahsyat yang pernah terjadi di bumi Indonesia. Dimana terjadi pengejaran, penangkapan, penyiksaan, pemenjaraan dan pembunuhan politik secara individual maupun massal. Yakni suatu teror dahsyat yang korbannya ratusan ribu bahkan jutaan jiwa manusia yang tewas dan juga yang menderita beragam penindasan: kaum komunis atau yang hanya diduga komunis, kaum nasionalis dan kaum demokrat pendukung garis politik Bung Karno lainnya. Sebagian terbesar adalah mereka yang tak pernah terlibat dalam  apa yang disebut "G30S/PKII" yang menewaskan 6 jenderal itu. Kaum yang menjadi korban keganasan teror putih bukan saja tak terbutikan bersalah, kebanyakan juga tak tahu menahu apa yang sebenarnya telah terjadi.
Dalam hal-ehwal itu, tak ada pekerja kebudayaan sekaligus penyair yang lebih tegas lugas mengungkapkan situasi yang tragis itu, kecuali HR Bandaharo. Yang juga sebagai saksi-mata sekaligus korban penindasan dan pernah menjadi orang buangan di Pulau Buru. Dalam sajaknya "Cerita" Bandaharo mengungutarakan baris-baris berikut:
"ada cerita datang / putera-puteri tanahair bermatian / mayat-mayat bergelimpangan di jalanan / atau berhanyutan di sungai-sungai /
untuk apakah semua kematian ini / harus menimpa tanahair? / mereka yang mati tiada mengetahui /
hati jadi hitam karena dihasut / dan membunuh jadi kebajikan / yang mati adalah yang dihasut / yang membunuh adalah yang dihasut / penghasut-hasut dianggap pahlawan..."
Selanjutnya, dalam sajak Bandaharo berjudul "Dosa Apa", dapat pembaca rasakan suasana pengap dan kegelap-gelitaan yang mencengkam:
"kelam menyungkup alam / laksana langit terhempas ke bumi / bintang-bintang pudar bertaburan / besi dan besi berlaga, memercikkan api /
kelam menyusupi kalbu / setiap orang meraba tanpa pedoman / berkeliaran tanpa tuju / dalam suatu arak-arakan / buta mata - - - tuli telinga /
putera-puteri agustus terseret ke belakang kawat-duri / membawa hati penuh tanya / tentang dosa apa dan dosa siapa /
lalu menyerahlah siapa yang menyerah / karena rela menerima sendiri / dosa tak pernah diperbuat - - - tercoreng kening, tertampar pipi"
Dua sajak Banda itu termuat dalam kusajaknya "Dosa Apa" terbitan Inkultra, Jakarta. Dalam kumpulan sajaknya yang lain berjudul "Sepuluh Sajak Berkisah", lebih jauh pembaca dapat menyimak dan menyelami bagaimana pengungkapan akan nasib para korban keganasan kekerasan bersenjata rezim Orba. Bukan saja Banda, juga teman-teman seperjuangannya, termasuk semasa perjuangan di zaman penjajahan. Seperti Hutajulu yang pantang menyerah di bawah pendudukan fasisme Jepang.
Dalam sajaknya berjudul "B.H. Hutajulu", juga terungkapkan peran seorang tokoh perjuangan bernama Umar Bachsan:
"Pernahkah anda dengar kisah Umar Bachsan / proklamator dan yang mengamankan perundingan Rengasdengklok / antara pemuda dan Bung Karno-Bung Hatta? / Ia kulihat sakit terkapar di atas tikar robek-robek / diselubungi selimut kumal / ia bicara dengan lidah kelu, tangannya tergapai-gapai / dan akhirnya menghembuskan nafas terkahir di blok-RS penjara Salemba /
Siapa yang bisa menyangkal Umar Bachsan seorang pahlawan? / Tapi tak ada kelompok yang menabalkannya /
Mereka telah pergi, satu demi satu / meninggalkan aku menghadapi lampu kehabisan minyak dan sumbu..."
 Dan pengakuannya pada baris-baris puitis « Mirakel tahun 2000 » : "Ayahku seumur hidupnya seorang pejuang / Ia mati dalam keadaan papa / tak meninggalkan apa-apa / kecuali suatu cita-cita / tentang kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan / kehidupan makmur dan keadilan / dan jaminan atas hak asasi manusia … »
HR Bandaharo yang kelahiran Medan 1917 adalah penyair beberapa zaman. Zaman perjuangan melawan penjajahan, zaman perjuangan Revolusi Agustus, zaman perjuangan mempertahankan dan mencapai kemerdekaan yang penuh di bawah rezim Orde Lama dan akhirnya zaman Orde Baru. Karya-karya Banda yang terkenal adalah "Sarinah dan Aku" (1939), "Dari Daerah Lapar dan Kasih" (1956) serta tak terbilang banyaknya sajak-sajak yang ditulisnya untuk majalah-majalah budaya seperti  Zenith, Indonesia dan Zaman Baru.
Salah seorang penyair besar Indonesia pendamba kemerdekaan dan keadilan ini berpulang ke alam baqa pada 1 April 1993 dalam keadaan sengsara, di ibukota Jakarta.  *** (Akibr)
Diterbitkan di: Agustus 05, 2007

Komentar

Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.