Sebagai
jalan ke luar dari kemelut tanah air pada waktu itu, maka oleh Presiden
Soekarno dan PM Djuanda diadakan
Munas (Musyawarah Nasional) di
Jakarta. Munas juga dimaksudkan untuk merekat dan memposisikan kembali
Dwi Tunggal Soekarno-Hatta yang sudah menjadi Dwi
Tanggal.
Untuk menghadapi Munas pada bulan September 1957 itu, para pimpinan
daerah yang bergolak seperti Dewan Banteng (Sumteng), Dewan Gajah
(Sumut), Dewan Garuda (Sumsel) dan Permesta bertemu di Palembang,
tanggal 7-8 September 1957 untuk menyatukan sikap.
Koran-koran yang jadi terompet PKI dan pendukung Soekarno melansir
berita
dengan judul huruf-huruf "banner" bahwa Ahmad Husein takut
datang ke Jakarta menghadiri Munas tanggal 10-14 September 1957
tersebut.
Apa yang terjadi?
Ternyata Ketua Dewan Banteng itu nongol di Jakarta. Bahkan dengan wajah
berseri-seri dan dalam keadaan segar bugar, berkaca mata hitam turun
dari pesawat. Ia melambaikan tangannya seraya tersenyum kepada
penyambutnya di Bandara Kemayoran. Ia disambut dengan pencak-silat
Kumango, silat Piaman dan Lintau. Pada waktu itu belum terbiasa
penyambutan dengan tari gelombang atau tari pasambahan.