• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Melestari Tradisi Makna Memaknai Puisi Melayu Kepri

.

Melestari Tradisi Makna Memaknai Puisi Melayu Kepri

oleh : akibr     

Pengarang : A. Kohar Ibrahim
Melestrari Tradisi Makna Memaknai Puisi Melayu   Oleh : A. Kohar Ibrahim     BISA saja memang
demikian adanya. Yakni dalam mengapresiasi sekaligus upaya melestarikann tradisi makna memaknai perpusian Melayu.  Seperti halnya, bisa juga pemaknaan Nizar akan perpuisian.  Yang baginya, « berpuisi bagi orang-orang Melayu merupakan sebuah alat komunikasi yang sudah ada sejak zaman dahulu. Membaca sajak atau puisi menjadi kekuatan untuk menyampaikan pesan-pesan moral akan apa yang terjadi di masyarakat. Dengan kata lain, membaca sajak atau puisi menjadi bagian tak terpisahkan bagi alam Melayu. »   Bisa saja, seperti halnya juga ummat manusia lainnya di bagian lain bola bumi ini. Orang India mengenal puisi sejak 1200 tahun SM (3207 tahun lalu).  Orang Tionghoa sudah menikmati puisi mereka sejak1000 tahun SM. Orang Persia sejak 800 tahun SM. Orang Eropa sejak 800 SM sudah memiliki penyair besar bernama Homere. “Dunia lahir, Homere nyanyi,” ungkap Victor Hugo dalam makna memaknai sang penyair legendaris itu dalam hubungan tak terpisahkan dengan dunianya – alam dan masyarakat manusianya.   Iya, bisa saja begitu keadaannya. Kebisaan yang bisa jadi kebiasaan atau tradisi yang baik dalam jalur jelujur perjalanan sejarah hidup kehidupan umat manusia. Dalam perjuangan yang panjang untuk menjadi manusia yang lebih manusiawi dengan segala variasi budi-daya-nya yang biasa dan luarbiasa serta tanpa kenal henti sejak zaman dahulu kala. Dalam mana bentuk seni puisi adalah pertandanya yang signifikan.   Oleh karena itu, tidaklah begitu mengherankan jikalau adanya kegelisah-galauan sementara kalangan seniman, terutama sekali para penyairnya yang peduli situasi-kondisi tradisi yang baik sepertinya dalam keadaan memprihatinkan. Seperti yang antara lain diekspresikan oleh beberapa penyair Riau Kepulauan tersebutkan di atas. Hal itu wajar-wajar saja – selaras peran kesenimanan ataupun kecendekiawanan mereka. Yang meskipun masih jauh dari memenuhi harapan, sudah menindak-lanjuti kegelisah-galauan itu dengan iringan aktivitas-kreativitas, bukan hanya dalam penerbitan karya tertulis melainkan juga pementasan.   Yakni berupa Gelar Puisi di KSM dan di Teater Mini TMI Jakarta dan yang semacamnya lagi. Yang kesemarakannya kian bertambah dari masa ke masa. Seperti “Resital Sastra dari Negeri Kata-Kata” di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta, 29 Januari 2007. Dengan penampilan yang layak dari para penyair Kepri: Tarmizi, Samson Rambah Pasir, Ramon Damora, Machzumi Dawood, Hoesnizar Hood dan Hasan Aspahani. Yang terakhir ini mengutarakan baris baris kata puitis sinis, pedas tapi manis, segar tapi menggetar hati dan pikiran pendengar. Ungkapannya, antara lain: “Perahu / Saudagar / Belajar, dari Bandar ke Bandar, rumah pecah beribu / Kamar, tengah menganga, sejarah samudera berdarah luka / Keduanya tidak bisa lagi ditawar, tak bisa lagi diputar, tak pula dapat ditukar / Perahu / Bandar / Bertolak belayar mencari jangkar, saudagar tak sempat lagi menghitung dinar / Menghitung ringgit, menukar dollar.”   Selanjutnya (9/3), gema yang menggugah-gairah alam budaya Indonesia umumnya, khususnya Kepri, tentulah terselenggaranya Malam Anugerah Sayembara Novel DKJ 2006. Dengan salah sebuah bintang cemerlangnya sastrawan kelahiran Tanjungpinang 30 Juni 1957: Tusiran Suseno. Yang meraih pemenang kedua, dengan hasil karyanya berjudul: “Mutiara Karam.” Suatu prestasi yang menambah prestise budaya, bukan saja diri pribadi sang pengarang melainkan juga Kepri bahkan Indonesia di mata dunia.   Oleh karenanya  prestasi-prerstise tersebut sekaligus merupakan pertanda penting dari rangkaian dinamika perjuangan pelestarian tradisi yang baik, dengan bukti aktivitas-kreativitas kesusastraan di bumi Melayu yang bernama Riau Kepulauan ini. *** (Akibr)   Notes: Cakas : catatan ringkas. Penulis: selain menulis cerpen, dan puisi, juga penulis  ragam macam esai sosio-budaya. Biodata dan aktivitas-kreativitasnya bisa dilacak di http://www.16j42.multiply.com dan http://artscad.com/(a)/AKoharIbrahim dan lain sebagainya.
Diterbitkan di: Agustus 03, 2007

Komentar

Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.