• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Gema Gairah Kiprah Penyair Melayu Kepri

.

Gema Gairah Kiprah Penyair Melayu Kepri

oleh : akibr     

Pengarang : A. Kohar Ibrahim
Gema Gairah Kiprah Penyair Melayu Kepri     Oleh : A. Kohar Ibrahim   KEDUA karya puisi baik yang
dari Barat (Baudelaire) maupun yang dari Timur (Usman Awang) tersebut di atas itu saya anggap merupakan pertanda utama, fenomenal sekaligus monumental dalam kesamaan menyanyikan lagu manusia atau kemanusiaan yang universal ; kendati dengan kekhasan kandungan nada irama dan nuansanya masing-masing. Namun, satu hal yang saya hendak garisbawahi adalah betapa makna perpuisian yang mampu mengungkap-angkat sekaligus mengumandangkan kejiwaan bangsa-bangsa manusia di jagad alam raya. Hal mana hanya merupakan bukti kelayak-selarasan awal-mula tumbuh dan perkembangannya dengan keberadaan ummat manusia. Semenjak diekspresikan secara lisan dan selanjutnya secara tulisan, dalam ragam macam bentuknya.   Oleh karena itu, wajarlah jika kerap kali terdengar gema bahkan suara santar dari kaum cerdik pintar, khususnya para penyair sendiri, yang menyatakan kepeduliannya akan maju-mundurnya alam perpuisian yang digelutinya. Hal mana hanya membuktikan gerak dinamika hidup dan kehidupan masyarakat umumnya, khususnya kehidupan kesusastraan, dan lebih khusus lagi : perpuisian. Gerak hidup dan kehidupan yang hakikinya adalah perjuangan di segala bidangnya.   Demikianlah, apakah dari dekat ataukah dari kejauhan, belakangan ini adalah pertanda yang menyegarkan suasana alam perpuisian di Dunia Melayu, kongkretnya Riau Kepulauan. Yang mau tak mau juga menyegarkan suasana alam perpusian Indonesia. Jika diingat saling seling silang kait berkaitan sejarahnya baik dalam makna penting Bahasa maupun Kesusastraan. Dengan pelestarian warisan yang baik sekaligus pengembangannya. Makna pemaknaan terpenting dari Pelestarian Warisan tersebut tak lain tak bukan adalah aktivitas-kreativitas kesusastraan – baik dalam bentuk prosa maupun puisi.   Salah satu pertanda yang saya maksudkan itu adalah Gelar Puisi Suryatati di Gedung Teater Mini TMI Jakarta, yang justeru mengutarakan judul « Melayukah Aku ? ». Yang nyaris secara spontan mengasosiasikan kita pada karya puisi « Melayu » Usman Awang tersitir di bagian pertama makalah ini – sekalian kepada « Gurindam Duabelas »  Raja Ali Haji.   « Ape tande orang Melayu / Tunjuk ajarnye menjadi penentu / Kepada orang tue hendaklah hormat / Supaya hidup jadi selamat » -- demikian baris baris kata puitis bait pertama dari sajak Dra Suryatati Manan yang adalah juga berkedudukan sebagai Wako Tanjungpinang, dalam berita yang dilansir Harian Batam Pos 16 April 2007.   Suatu « Pertunjukan yang sangat bagus » menurut Wakil Bupati Bintan Mastur Taher. Yang selain adanya prestasi sekaligus prestise penyair Tatik, juga tampil para penyair Kepri lainnya seperti Hoesnizar Hood, Teja Alhab, Mastur Taher, Jenewal Muchtar, Machzumi Dawood dan sang bintang jadi cemerlang belakangan ini, yakni : Tusiran Suseno.   Maka tak urung, gema kegairah-gembiraan akan terselenggaranya malam pergelaran puisi itu adalah yang datang dari penyair sekaligus budayawan yang juga berfungsi sebagai Ketua Dewan Kesenian Kepri. Khususnya dalam memaknai bentuk pepuisian yang disajikan. Bahwa : « Puisi itu suatu bentuk dari bahasa kejujuran. Dalam puisi itu terlihat ada sesuatu dalam pikiran yang terluahkan dan didedahkan. »   Ujar kata Nizar itu jelas dengan nada kebanggaan, nyaris tanpa adanya kekhawatiran jikalau tradisi yang baik jadi pudar bahkan ditinggalkan, seperti dalam pernyataannya tahun 2002. Pada waktu « Parade Puisi Alam Melayu » yang memeriahkan pembukaan Kenduri Seni Melayu Sedunia (KSM) di Batam. Seperti dilaporkan Kompas 27 Oktober 2002.   Jika pada waktu itu ada kekhawatiran Nizar, penyair Kepri lainya, Tarmizi yang dijuluki Si Rumah Hitam itu malah dengan lugas menyatakan : « Negeri Melayu ini akan terasa sunyi jika tak ada puisi. Puisi atau sajak bagi orang Melayu sudah menjadi roh pembangkit kekuatan moral dan spiritual. Nilai nilai inilah yang sekarang mulai terlupakan. »   Akan tetapi, syukurlah, bahwa sementara itu juga timbul kesedaran, seperti tercermin dari pernyataan penyair Kepri lainnya – Samson Rambah Pasir – yang menjabat Sekretair Dewan Kesenian Batam sekaligus Sekretaris Panitia KSM itu. Bahwasanya, Parade Puisi Alam Melayu yang sengaja ditampilkan pada awal pembukaan KSM itu adalah « Sebagai pencerahan bagi seniman Melayu tentang pokok-pokok pikiran penyair, setidaknya akan membuka wacana baru bagi masyarakat Melayu di mana pun berada. » *** (Akibr)  
Diterbitkan di: Agustus 03, 2007
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.