Keakbaran Penyair Besar Tongkat-Baudelaire Oleh : A. Kohar Ibrahim SAYA ingin mengulang bilang seraya menggaris-bawahi, bahwasanya hasil salah satu kreasi puisi Usman Awang itu merupakan salah sebuah pertanda zaman
dalam sejarah kesusasteraan Melayu pada umumnya. Bukti keulungan bahasa sekaligus cara-gaya ekspresinya dalam menyajikan kandungan isi
dengan dukungan bentuknya yang harmonis. Pesan dan kesannya yang membahana, mengingatkan saya pada salah sebuah karya puisi Perancis berjudul « Kepada Pembaca » gubahan penyair Charles Baudelaire. Pasalnya, menurut impresi saya, meski Baudelaire dan Usman Awang (yang nama sebenarnya adalah Tongkat Warrant) masing-masing hidup di abad berlainan, namun sama-sama penganut romantisme – bahkan romantisme-realis. Kedua-duanya selaku penyair akbar yang dengan kreativitas seninya sama-sama menyanyikan lagu manusia. Lagu luarbiasa dengan segala ragam dan segi-seginya yang tragis maupun yang romantis. Cobalah bandingkan sajak «Melayu » Usman Awang alias Tongkat Warrant dengan sajak Charles Baudelaire berjudul « Kepada Pembaca », yang saya sitir-saji di bawah ini : « Kedunguan, kesalahan, dosa dan kekikiran, / Menghuni jiwa
kita dan menggeluti raga kita, / Dan menjadikannya santapan penyesalan halus kita, / Seperti pengemis memberi makan kaum terhina mereka. / Dosa-dosa kita pembandel, ketobatan kita pengecut ; / Kita bayar sendiri dengan mahalnya pengakuan kita, / Dan kita pulang dengan girang di lorong berlumpur / Percaya dengan tangis pura-pura bisa menghapus dosa. / Di telinga keburukan adalah Setan Trismegis / Yang melobang lama lama jiwa senang kita, / Dan logam adi kemauan kita / Dan semua diuapkan
Oleh ahli kimia ini. / Adalah iblis pemegang talikendali kita! / Pada benda-benda menjijikkan kita temukan daya tarik ; / Tiap hari tiap tapak kita turun ke Neraka, / Tanpa takut melalui kegelapan bau busuk. / Demikian serupa sorang miskin senggama dan makan / Payudara korban dari pelacur tua, / Kita mau sambil lalu kenikmatan selingkuh / Yang kita peras sekeras-kerasnya bak jeruk rapuh. / Berdesakan, berkerumunan, bak sejuta ulat-jahat, / Dalam otak kita gentayangan gerombolan Iblis, / Dan, saat kita menarik nafas, Kematian di ruang jantung, / Turunlah, sungai siluman, dengan gerutu menulikan. / Jika perkosaan, racun, belati, kebakaran, / Belum lagi dihias oleh gambaran mereka yang menyenangkan / Kain setramin biasa nasib kita yang menyedihkan / Hal itu karena jiwa kita, aduhai! Tak cukup tangguh. / Tetapi di antara para serigala, macan tutul, ajing buruan, / Monyet, kalajengking, gagak, ular, / Raksasa melengking-lengking, berteriak-teriak, merangkak, / Dalam kandang memalukan sifat-sifat buruk kita, / Ada satu yang lebih jelek, lebih jahat, lebih kejam-keji! / Meski ia tak mendorong tindakan kasar pun tidak teriak keras, / Ia hanya menjadikan tanah debu / Dan dengan sekali penguapan kan menelan dunia ; / Itulah Kejenuh-jengkelan! – mata menanggung tangisan terpaksa, / Ia mimpikan panggung tiang-gantungan sembari hisap houka. / Dikau mengenalnya, pembaca, raksasa peka ini, / -- Pembaca munafik, -- se sama ku, -- saudara ku! / » . Sajak itu saya Indonesiakan dari bahasa aslinya, Perancis, dengan judul: «Au Lecteur », merupakan Kata Pengantar dari buku Baudelaire yang masyhur: “Les Fleurs du Mal” (1857). Salah sebuah kreasi puisi yang pernah menggemparkan hingga sampai ke Pengadilan Imperium Perancis itu disiar pertama kali di Kepri oleh Majalah Budaya “Dua Belas” nomor Februari 2006. Termaktub dalam esai “Tiga Pendekar Puisi Perancis: Hugo – Baudelaire – Rimbaud”. *** (Akibr)
Ringkasan lain tentang Keakbaran Penyair Tongkat-Baudelaire