Dalam
keadaan genting semacam ini, meletus pula “
Peristiwa Cikini” tanggal 30
November 1957. Peristiwa
itu secara terang-terangan atau tersembunyi
merupakan percobaan pembunuhan atas Presiden Soekarno sewaktu
mengunjungi Sekolah Rakyat di Cikini, Jakarta.
KSAD AH Nasution dan stafnya Kolonel Sukendro langsung menuduh Zulkifli
Lubis
sebagai dalangnya. Keadaan gawat, tetapi organisasi Sarikat Buruh
yang berafiliasi denga PKI dan PNI langsung memanfaatkan suasana keruh
itu dengan melakukan aksi mogok sebagai “protes” terhadap kegagalan
Majelis Umum PBB untuk memaksa Belanda menyerahkan Irian Barat kepada
Indonesia. Kantor-kantor perusahaan Belanda didemonstrasi dan
diambil-alih, termasuk Perusahaan Pelayaran KPM dan menuntut pengusiran
46.000 orang warga Belanda di Indonesia.
Hatta mengecam
keras tindakan pengambilalihan itu sebagai perbuatan
tidak bijaksana
dan bodoh. Kecaman-kecaman serupa juga datang dari pihak Masyumi,
Partai Sosialis Indonesia dan partai-partai Nasrani, kecuali PKI dan
PNI. Sebagai jawabannya,
tokoh-tokoh kedua partai itu mengalami tekanan
dan teror yang semakin gencar dari pemuda-pemuda radikal dan
diintimidasi oleh “tukang-tukang pukul”, yang semakin semena-mena.
Tidak ada rasa aman di Jakarta, sedangkan Panglima KMKB (Komando
Militer Kota Besar Djakarta-Raya) Mayor A. Dachyar, karena simpatisan
PKI, tidak mengambil tindakan apa-apa, juga tidak terhadap lokalisasi
pengamanan Sekolah Dasar Cikini, sebelum peristiwa itu terjadi.
Ringkasan lain tentang Bergabungnya Tokoh-Tokoh Sipil Dengan Dewan Banteng