SURATNYA terakhir
kepada saya dari Padang tanggal 30 Juli 2002: "Bung Rosihan Anwar,
masih ingat saya pada ucapan Bung waktu menjenguk saya di RS Harapan
Kita, bahwa Bung baru baca
cerpen Robohnya Surau Kami
dalam antologi
sastra dari Taufik Ismail. Percakapan itu menimbulkan kesan bahwa Bung
belum baca cerpen-cerpen saya. Saya telah menulis 65 cerpen dalam enam
buku kumpulan cerpen.
Tetapi di rumah saya hanya ada stok empat buku.
Bersama ini saya kirimkan sebagai kenang-kenangan. Wassalam
AA Navis."
Empat buku yang
dikirimkannya itu: Robohnya Surau Kami (1986), Jodoh (1999), Hujan
Panas dan Kabut Musim (1964-1990), Bertanya Kerbau Pada Pedati (2001).
Karena keterbatasan waktu, belum semuanya saya baca.
Ali Akbar Navis
yang lahir di Padang Panjang 17 November 1924 dan tutup usia di Padang
22 Maret 2003, adalah cerpenis piawai, sastrawan daerah bergengsi
nasional dan internasional. Selain cerita pendek ia menulis puisi,
novel, cerita anak, esai, biografi. Ia pengarang yang banyak karyanya.
Ia budayawan yang tajam analisanya. Navis bukan saja penulis, tetapi
juga paota;
istilah Minang berarti: pandai omong, istilah Perancis
causeur. Navis belajar di INS Kayutanam 1932-1943, lembaga pendidikan
yang didirikan Muhamad Syafei. INS mengajarkan kepada siswanya sikap
mandiri, bisa hidup tidak tergantung pekerjaan di pemerintah. INS
menanamkan mentalitas jangan jadi ambtenaar atau pegawai negeri, tetapi
menjadi orang bebas atau vrije man-istilah Belanda ini menjadi pareman
dalam bahasa Minang, dan kini menjadi preman yang bermakna derogatif
yakni orang yang tidak peduli hukum, bertindak semau gue, suka tindakan
kekerasan.
Ringkasan lain tentang In Memoriam AA Navis