“Tengah
malam, hari Selasa, 21 Desember 1948 itu, saya dibangunkan oleh orang
ronda yang datang bersama anggota BNPK. Mereka meminta saya segera ke
atas. Maksudnya ke lokasi Pabrik Teh Halaban yang terletak di di kaki
gunung Sago. Malam
itu di Halaban dan sekitarnya amatlah dingin. Jarum
jam menunjukkan pukul 12 tengah malam. Katanya Bapak-bapak
kita entah Menteri, entah Gubernur, entah Residen, entah siapa, pokoknya ruangan
pabrik itu sudah penuh! Kita mau perang dengan Belanda, bukan saja di
Padang area, tapi di sini, di desa kita ini! Saya pandang gunung Sago
dalam halimun yang dalam. Ternyata sosok gunung itu masih membayang...
Republik tidak akan hilang... kataku dalam hati...” (wawancara Penulis
dengan
Bapak Djojo Soeparto di Halaban, 15 Juni 1959)
Pada
tahun 1959 adalah 10 tahun setelah PDRI. Pemerintah Darurat itu
hadir di tengah perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI pada tahun
1948-1949. Kebetulan pada tahun itu adalah masa pergolakan daerah
(PRRI) dan saya berada di nagari Halaban selama lebih kurang tiga bulan
sebelum menuju Unggan dan Sumpur Kudus, kabupaten Sawahlunto Sijunjung.
Saya merasa beruntung sekali tinggal selama 2 hari
menumpang di rumah Pak Djojo Soeparto, salah seorang Mandor pada
perkebunan Teh Halaban yang terletak lebih kurang 20 KM di Selatan kota
Payakumbuh.
Pak Djojo adalah seorang Jawa yang merupakan saksi hidup yang ikut menyaksikan pada subuh hari Rabu, 22 Desember 1948, ketika Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) lahir di Pabrik Teh Halaban di kaki gunung Sago.
Ringkasan lain tentang 22 Desember 1948, Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) Lahir di Halaban