Pertemuan
dengan Tokoh Islam ternama
ini bukan seperti biasa. Misalnya di kantor
Perdana Menteri ketika tokoh ini jadi PM Pertama Negara Kesatuan RI
pada tahun 1950. Atau dikantor PP Masjumi atau di kantor DDII di
Jakarta tempat menggembleng para kadernya.
Kami digembleng di sebuah rumah gadang Minang, jauh di
daerah marjinal,
kurang lebih 45 KM di utara kota Payakumbuh. Rumah gadang Datuk
Rangkayo Basa, mantan Wali Nagari Perang Koto Tinggi, Suliki.
Waktu
itu pak Natsir
adalah juru bicara PRRI (Pemerintahan Revolusioner
Republik Indonesia) yang dicetuskan di Padang 15 Februari 1958 dengan
Perdana Menterinya Mr. Syafruddin Prawiranegara.
Dalam susunan kabinet PRRI, jabatan Menteri Penerangan adalah Major
Saleh Lahade. Tapi karena Menteri ini berada di daerah Permesta di
Sulawesi Utara, maka di daerah Sumatra, Pak Natsir ditunjuk sebagai
Jubir PRRI.
Kami berhalaqah (duduk bersila melingkar) di depan Pak Natsir. Negarawan asal Minang itu menyandang gelar sako adat
sebagai Datuk Sinaro nan Panjang, maka menurut kesan saya pagi itu
amatlah serasi pakaian yang digunakan Datuk Sinaro nan Panjang (Pak
Natsir) bercelana batik, baju ganih gunting cina dan berkopiah girin
(suto).
Ringkasan lain tentang Mohammad Natsir dan Dahlan Djambek di Koto Tinggi