“The
twilight in Jakarta”, suatu senjakala di Jakarta. Hari itu tanggal 15
Februari 1958, empat puluh dua tahun
yang silam. Sejumlah, wartyawan
asing memasuki halaman rumah kediaman Mentri Luar Negeri RI Dr.
Subandrio, Jalan Merdeka Barat, Jakarta. Ternyata rumah itu kosong.
Dari paviliun kanan muncul seorang diplomat muda, Ganis Harsono,
Manatan Atase Prs Kedutaan Besar RI di Washington.
Di depan Ganis,
Wartawan New York Times, Bernie Kalb berteriak keras,
“Apa macam kalian semua ini, hah? Di mana Perdana Menteri Djuanda
sekarang? Dimana Menteri Luar Negerimu Subandrio? Semua tak ada di
tempat. Tak ada seorang pun yang bisa dimintai keterangan. Apa macam,
nih?”
Lalu Ganis Warsono menyuruh para wartawan asing itu pergi ke Menteng, Pusat Perwakilan Negara-Negara Asing.
“Di sana beliau-beliau itu akan bertemu. Ada Prime Minister Djuanda dan ada Menlu Subandrio”, kata Ganis.
Tapi Hans Martinot, wartawan ANP (Algeemeen Nederlands Persbureu) dari Belanda berteriak lagi:
“Hei, Ganis! Kau jangan berlagak pintar, Kau pasti sudah mendengar satu
jam yang lalu RRI Bukittinggi dan Padang telah menyiarkan Proklamasi
PRRI (Pemerintah Revolusioner Repunblik Indonesia di Padang).”
“Lantas?” Sahut Ganis.
“Kami tidak bisa menyiarkan berita itu ke luar negeri tanpa dilengkapi
dengan tanggapan resmi dari Pemerintahan Pusat di Jakarta,” jawab Davor
wartawan Kantor Berita Yugoslavia, Tanjug.