Perkembangan
seni
pertunjukan kontemporer di Indonesia dan Sumatera Barat khususnya,
terutama dalam seni pertunjukan
tari dan
musik yang berangkat dari akar
budaya Minangkabau, sejak tiga dasawarsa terakhir berkembang pesat.
Berbagai bentuk pencapaian artistik dan filosofis berkembang untuk
memperkaya dunia seni pertunjukan kontemporer di Tanah Air.
Ketua Dewan Kesenian Sumatera Barat (DKSB) Edy Utama mengatakan hal itu, Jumat (25/10), di Padang, menjelang digelarnya Pentas Seni III Tahun 2002 di Kota Padangpanjang, 26-31 Oktober.
"Dibanding
daerah lain di Indonesia, seni kontemporer Minang mendapat tempat di
tingkat nasional bahkan internasional. Salah satu contoh, 10-13
September 2002, tari-tari karya
koreografer terkemuka Boy G Sakti
mendapat sambutan luar biasa di Singapura," katanya.
Bahkan, minggu pertama November 2002 kelompok Musik
Talago Buni yang dipimpin Edy Utama sendiri, akan bertolak ke Amerika
Serikat, tampil pada lima perguruan tinggi terkemuka di negara berjuluk
Paman Sam tersebut. Seni musik kontemporer Minang menjadi pilihan,
karena dibanding musik-musik etnik lain di dunia, musik kontemporer
Minang dinilai unik dan sangat menarik untuk menjadi bahan kajian.
Edy menjelaskan, Pentas Seni III DKSB akan
memperlihatkan berbagai perkembangan terkini seni pertunjukan
kontemporer karya seniman-seniman tari, musik, dan teater terkemuka
asal Sumatera Barat. "Ada 23 kelompok seni pertunjukan tari, musik, dan
teater yang akan menampilkan karya-karya terbarunya. Ini kesempatan
langka, menyaksikan pertunjukan berkualitas secara gratis," tambahnya.
Khusus pada acara pembukaan, Sabtu (26/10) ini pukul
19.30, lima perempuan koreografer mempersembahkan karyanya untuk
mengenang koreografer Hoerijah Adam dan Gusmiati Suid. Perempuan
koreografer tersebut adalah Angga Djamar, Diana Fatmawati, Ninon Sovia,
Zuryati Zoebir, dan Syofyani Yusaf.
Ringkasan lain tentang DKSB Gelar Pentas Seni Kontemporer