SEJAK Seno Gumira
Ajidarma membedah melalui gaya penulisan cerpennya, terutam
dengan diterbitkannya kumpulan Cerpen "Manusia Kamar", dunia kepenulisan Prosa
Indonesia mengalami metamorfosa yang sangat liar. Remy Novaris DM,
dalam salah satu esai menulis kalimat di atas. Saya justru melihatnya
dalam dunia prosa ada sebuah perubahan yang berlanjut. Semacam ada sebuah energi
yang mendesaknya untuk melakukan sebuah pembaruan "radikal". Begitu
dashyatnya peta perjalanan prosa Indonesia. Apabila Sutardji berulang
kali menafsirkan peta perpuisian Indonesia dianggap sudah mencapai
pembaruannya, dengan menuliskan sebuah "Kredo
puisi", yakni pembebasan
sebuah
kata dari makna maka tamatlah riwayat perjalanan perpuisian
Indonesia.
Apa yang ditempuh para
pendahulu di bidang puisi telah mencapai tahapan yang masimal.
Permulaan tahun 1945, Chairil Anwar dianggap merombak
diksi-diksi yang
konon begitu sakral, dan dipercayai Pujangga Baru, sebagai aturan yang
tak bisa diubah.
Diksi-diksi puisi yang
berirama, semacam a-b-ab, harus diikuti kaidahnya. Dengan gayanya
sendiri Chairil tak lagi bisa menerima itu semua. Pendedahan mulai
dilakukan, dengan melakukan sebuah pelafalan baru. Mencoret kata-kata
yang tak perlu. Meski, jasa penemuan akan kepenyairan Chairil tersebut
tidak terlepas dari H.B. Jassin. Jassinlah yang
mempromosikan Chairil, dengan menjelaskan
sajak-sajak Chairil, melalui
teori sastranya. Peta pembaruan puisi dilanjutkan Sutardji. Penyair
"meong" ini melafalkan sajak-sajak mantranya yang abai dari makna.
Dalam salah satu esainya Subagio Sastrowardoyo dalam "Pengarang Sebagai
Manusia Perbatasan", menjelaskan puisi-puisi Sutardji masih bermakna,
walau kadang terasa janggal.
Ringkasan lain tentang Cerpen Versus Puisi [Budaya]