Benny
Yohannes
dalam makalahnya mengatakan bahwa “
multikulturalisme dalam
teater seyogyanya dipahami dalam prinsip hadir yang selalu tidak ada (absent present).
Bahwa budaya itu tidak pernah memiliki transendensi
atau Pengada-Besar,
atau asal-usul arkaiknya. Sebab pelacakan terhadap asal-usul seperti
itu selalu membikin kita yatim dan semakin yatim. Namun rentangan
keyatiman itu adalah sumber-sumber epistemik yang tak pernah
menyediakan batas, kefinalan atau kesudahan”. mengungkapkan pikirannya dalam seminar PAT 2003. Selain Benny juga ada
Azuzan JG
dari IKJ Jakarta, Sahrul N dari STSI Padangpanjang, dan
Zulkifli dari STSI Padangpanjang yang membicarakan multikulturalisme
teater Indonesia dari sudut pandang yang berbeda. Selain seminar juga
ada pertunjukan teater yang diikuti sebanyak 6 kelompok teater yang
terdiri dari IKJ Jakarta, STSI Bandung, Teater Prung Bandung, Teater
Sastra Unand Padang, Teater IAIN Imam Bonjol Padang, dan STSI
Padangpanjang sebagai tuan rumah. Semua
peristiwa ini hadir mulai dari
tanggal 15 s/d 20 Mei 2003 di STSI Padangpanjang. Teater
adalah suatu peristiwa atau memperjelas peristiwa. Naskah, keinginan
sutradara, kemampuan pemeran, artistik, panggung dan lain-lain hanyalah
unsur-unsur dalam membangun peristiwa yang pada akhirnya menuju pada
dialektika antara hal-hal yang diharapkan dengan yang tak
disangka-sangka. Perpaduan unsur-unsur tersebut menjadikan teater
membuka ruang yang sangat luas terhadap adaptasi budaya. Tak ada yang
tak mungkin dalam dunia kreativitas teater.
Ringkasan lain tentang Multikulturalisme Teater Indonesia: Menghormati Keberagaman