Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Pertunjukan Koreografi Susasrita Lora Vianti:

.

Pertunjukan Koreografi Susasrita Lora Vianti:

Summary rating: 2 stars 3 Tinjauan
Pengarang : Nasrul Azwar
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 185  kata: 300   Diterbitkan di: Juli 25, 2007
Tiga Narasi Perempuan OLEH Nasrul Azwar Pertunjukan
koreografi ini memang telah lama berlalu, dan tulisan ini juga telah
lama Di atas pentas Teater Utama Taman Budaya Sumatra Barat, beberapa
waktu lalu, sorot lampu bercahaya temaram dan
terlihat usang, menyapu bagian tengah ruang pentas. Cahaya itu
membasahi sepasang tubuh yang meliuk-meliuk tegas dalam gerak silek harimau (salah
satu anasir tradisi silek di Minangkabau), tampak “bertutur” dengan
fasihnya tentang tatanan dan sistem adat Minangkabau yang melarang
kawin sesuku. Jelas, bahasa koreografi Susasrita Lora Vianti pada malam
itu memperlihatkan perlawanan terhadap sistem adat dan kekerabatan
matrilineal Minangkabau, yang memang ditabukan kawin sesama suku
(sepersukuan). Dalam sistem kekerabatan matrilineal yang dianut dalam
kultur Minangkabau hanya mengakomodasi garis keturunan menurut tali
darah perempuan (ibu). Sistem adat dan kekerabatan matrilineal
Minangkabau memang bukan pertama yang menjadi “inspirasi” bagi kreator.
Namun, paling tidak, untuk Sumatra Barat 5 tahun terakhir, inilah yang
pertama tuturan kreativitas tentang pemberontakan terhadap sistem
kekerabatan matrilineal Minangkabau dipentaskan. Tidak demikian banyak properti di atas pentas, cuma menghadirkan 30
buah piring membetuk garis lingkar di tengah pentas dengan
masing-masing piring dipasang lilin yang menyala. Penerimaan dan
penampakan lingkaran itu secara semiotis merepresentasikan adat dan
norma-norma dalam tradisi kebudayaan Minangkabau: ia menjadi penanda
dalam sistem itu. Sementara, sepasang panari, dikisahkan sebagai dua anak manusia yang saling mencintai dan berencana melanjutkan ke jenjang perkawinan—dalam gerak silek yang
lentur dan bertenaga—berupaya menerobos lingkaran (adat) itu. Pada saat
tertentu, sang pemudi berhasil menerobos lingkar api, sementara sang
pemuda tertinggal di luar lingkaran. Silih berganti mereka menerjang
masuk dalam lingkaran adat, namun ketika mereka melakukan secara
bersamaan, tampak sangat sukar melewati “wilayah” yang berpagar adat
itu.

Ringkasan lain tentang Pertunjukan Koreografi Susasrita Lora Vianti:
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------