Teater Sumatra Barat: Mencari Posisi yang Hilang
Summary rating: 2 stars
3 Tinjauan
Kunjungan:
220
kata:
300
Diterbitkan di: Juli 25, 2007
OLEH Nasrul Azwar Teater
Indonesia lahir dari urbanisasi. Perpindahan yang terus berlangsung tak
pernah henti. Perpindahan dalam bentuk apa saja. Maka dengan demikian,
dalam sejarahnya, teater terus perpacu dalam urban-urban yang
menyuarakan kebenaran, keadilan, kemanusiaan, kesetaraan, kebebasan,
kemerdekaan, dan juga gagasan-gagasan radikal. Proses urbanisasi itu
yang kemudian membentuk kata-kata, sakigus ideologi. Ideologi-ideologi
yang lahir dari teater akan menyatakan dirinya sebagai “isme” atau
paham yang kelak akan diepigoni oleh yang lain. Semua terus berlangsung dalam urbanistis. Seperti menggergaji air, ideologi teater yang
sudah termapankan terus menerus digerus dengan pelbagai cara, namun
tetap jua tidak “terputuskan”. Ia terus mengalir ke sudut-sudut kepala
sutradara, pelakon, pembuat naskah teater, dan juga kelompok teater
yang bersifat komunal, hingga saat kini. Maka,
dari itu pula, teater tidak akan pernah mampu melepaskan dirinya dari
ideologi. Setiap peristiwa teater adalah peristiwa pelepasan ideologi
dari rahim mereka yang dikandung sepanjang proses latihan berjalan.
Kelahiran ideologi tentu terjadi saat teater berada dalam ruang publik.
Ada penonton yang menyaksikan dengan latar belakang “ideologi” yang
berbeda pula. Klaim penonton terhadap sebuah peristiwa teater menjadi
risiko yang mesti diterima. Tidak ada kata absolut di dalamnya. Semua
berpendar ria dalam relativitas. Munculnya klaim
yang mengecewakan dari penonton setelah menyaksikan pertunjukan teater,
misalnya, haruslah disikapi sebagai wilayah sebagaimana teater itu
sendiri menyuarakan kemerdekaan, kebebasan, keadilan, dan lain
sebagainya. Pertimbangan
demikian, seperti pernah ditulis Asrul Sani, teater itu adalah
urbanisasi yang datang dari sekian banyak wilayah kebudayaan, yang
berakibat teater telah masuk dalam suatu masyarakat yang heterogen.
Maka, peristiwa teater—sekali lagi—wilayah yang terbuka, dinamis, dan
tidak berjalan dalam kerangka baku. Untuk itu pula, penonton teater
berada pada posisi yang terus menerus berubah setiap pertunjukan. Jika
dikejar lebih jauh, dalam setiap pertunjukan atau peristiwa teater,
sesungguhnya koridor untuk memahami nilai-nilai demokrasi sedang
berlangsung.