Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Catatan Pertunjukan Teater Noktah Padang

.

Catatan Pertunjukan Teater Noktah Padang

Summary rating: 3 stars 2 Tinjauan
Pengarang : Nasrul Azwar
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 184  kata: 600   Diterbitkan di: Juli 25, 2007
Tafsir Dua Teks Kultural Minangkabau OLEH Nasrul Azwar Tafsir
terhadap teks telah menjadi wilayah kuasa sutradara teater yang paling
absolut. Pada wilayah teks budaya yang maha luas itu, sutradara
merambah belantara ikon, simbol budaya, dan penanda sosial lainnya
untuk diwujudkan dalam estimasi ruang dan waktu dalam satu frame panggung dengan pertanggungjawaban kreatif sutradara. Tafsir
yang direpsentasikan dengan sebutan pementasan teater kerap memiliki
kecenderungan pengaktualisasian tematik dengan kondisi kekinian. Teks
budaya (tradisi) yang mendasarinya menjadi pijakan dan landasan kreatif
sutradara untuk merentangkan sebuah “historiografi” perjalanan masa,
katakanlah, semenjak munculnya sebuah cerita dengan tradisi oral hingga
ke tradisi tulis pada saat sekarang. Masa atau zaman yang panjang
itu—terlihat mencengangkan—dapat dimanpatkan dalam satu kerangka
panggung dengan durasi cerita yang singkat oleh sutradara teater.
Nyaris semua kelompok teater yang ada di Indonesia tak lepas dari pola
dan tafsir seperti itu. Menoleh
ke belakang (tradisi) sebagai basis kreativitas bukan hal baru dalam
teater modern Indonesia. Tendensi serupa ini telah berlangsung lama.
Dalam tafsir yang demikian, ada “kesombongan tradisi” masa lalu yang
menjadi kebanggaan kreativitas. Pada batas ini, kecelakaan tafsir
sering terjadi—seperti yang diungkapkan Ninuk Kleden (2004)—anggapan
bahwa kebudayaan dapat berperan sebagai identitas etnik mempunyai
konsekuensi teoritis yang mengharuskan orang memperlakukan kebudayaan
sebagai “tanda”. Sementara pemikiran tentang hubungan antara tanda (signified) dengan yang ditandai (signifier)
telah mengalami perubahan. Kalau semula hubungan tersebut boleh
dikatakan memiliki makna tunggal, kini tidak demikian lagi. Jadi,
tafsiran tentang representasi identitas, dalam hal ini identitas etnik,
bukan merupakan hubungan yang linear dan bukan merupakan hubungan yang
final. Tafsir terhadap representasi identitas etinik, taruhlah Kaba Sabai Nan Aluih yang berasal dari etnis Minangkabau, adalah tanda yang ditandai dengan memakai perangkat kekinian dalam pertunjukan teater Perempuan itu Bernama Sabai, yang dipentaskan Teater Noktah Padang
di Taman Budaya Sumatra Barat pada 6-7 Agustus 2005 dan 13 Agustus di
Tapian Nagari Balingka, dengan sutradara Syuhendri, tampaknya—sepanjang
pertunjukan—mengalami metamorfosis pengerucutan simbolisasi dengan
menafikan kekuatan tradisi oral (lisan) budaya etnik Minangkabau.
Pertunjukan sepanjang lebih-kurang 50 menit itu memang berada dalam
cengkeraman “kekuasaan” tafsir sutradara. Kaba Sabai Nan Aluih sebagai tradisi oral laksana lukisan realis yang diresepsi lalu ditafsirkan sebagai karya lukis surealis dengan penamaan Perempuan itu Bernama Sabai. Kekuatan kata-kata dalam Kaba Sabai Nan Aluih tak lagi ditemukan dalam pertunjukan teater Perempuan itu Bernama S

Ringkasan lain tentang Catatan Pertunjukan Teater Noktah Padang
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------