OLEH Nasrul Azwar “Tugas kita ditunggu, tugas Dogot menunggu. Itu saja. Perut itu kan urusanmu.” “Apa
urusanmu
cuma otak, tak pakai
perut? Apa Dogot, saudaramu itu tak punya
perut tapi punya otak? Begitu? Kau saudaranya ‘kan? Seperti halnya
tukang tiup peluit, tukang jual tiket dan tukang gali selokan. Dogot
itu saudaramu ‘kan? Kalau bukan mengapa kau tutup-tutupi?...” Sepenggal teks di
atas tampak biasa-biasa saja. Tak ada yang ganjil. Sama halnya dengan
teks tulisan ini. Akan tetapi, ia terasa sangat berbeda ketika roh
lakon ditiupkan ke dalamnya. Ia berdaging dan bernyawa. Demikianlah
teater. Demikianlah peristiwa teater dibangun dari teks yang “mati”
menjadi “hidup” di atas panggung. Dan inilah yang membedakan secara
signifikans antara teks sastra dangan teks teater. Pilihan teks sastra berupa cerpen yang diproyeksikan menjadi teks teater yang dilakukan komunitas seni Hitam Putih Padangpanjang
dengan sutradara Kurniasih Zaitun, memang memperlihatkan semacam
antiesensialisme. “Ditunggu Dogot” semula berupa cerpen karya Sapardi
Djoko Damono, yang pada 1 Juli 2006 di Teater Tertutup Taman Budaya
Sumatra Barat diaudivisualkan seperti mempertegas ruang relasi
antarsutradara, pengarang, pelakon, dan penonton. Pada malam itu
berlangsung apa yang disebut diaspora dan brikolase teater. “Ditunggu
Dogot” dalam tataran yang positif berhasil penata ulang dan memadukan
objek-objek penanda yang sebelumnya—taruhlah tidak saling terkait—untuk
menghasilkan makna-makna baru dalam konteks yang baru.