OLEH Nasrul Azwar Surbat
kini telah kaya raya. Jika diukur, mungkin Surbatlah yang terkaya di
kampungnya. Rumah bertingkat tiga, punya sawah luas, sapi ternaknya
tidak sedikit jumlahnya, dan juga sudah punya heler dua, angkutan desa
6 buah, serta anjing untuk berburu 4 ekor. Pokoknya, tiga tahun
terakhir, kekayaan Surbat melejit 1000 kali lipat.
Orang kampung tidak
pernah berpikir, dari mana Surbat dapat uang. Bagi orang kampung,
Surbat adalah pahlawan yang telah melambungkan nama kampungnya. Pokonya
Surbat-lah yang paling hebat di mata mereka. Dan Surbat sendiri tidak
pernah tinggal di kampugnya tiga tahun terakhir. Dengan kata lain,
semenjak Surbat terpilih jadi
anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
(DPRD) Sumatra Barat tahun 1999. Ia hanya mengirim uang untuk membangun
rumahnya, beli ini-itu, dan lain sebagainya. Yang ada di kampung hanya
orangtuanya, serta ditambah adik-adiknya. Untuk menjaga keamanan rumah
yang mewah itu, setahun terakhir, Surbat menaruh Satpam di dekat pintu
masuk. Tak mudah masuk ke rumah itu, walau
itu di kampung. Bagi orang
kampung, hal itu tidak jadi soal. Karena Surbat pantas diperlakukan
demikian. Disebabkan Surbat, kampung mereka jadi terkenal. Adalah
Surbat yang kini duduk sebagai anggota DPRD Sumatra Barat. Kantornya di
Padang. Ia terpilih sebagai anggota DPRD Sumatra Barat dari salah satu
partai baru dalam hasil pemilu 1999 — hasil sisa suara yang
digabungkan. Alangkah bangganya orang kampungnya saat nama Surbat
disebut sebagai anggota DPRD Sumatra Barat, dan bahkan ada sebagian
orang kampungya yang meneteskan airmata saat Surbat dilantik sebagai
wakil rakyat. Mereka terharu. Namun ada juga yang sinis, dan bertanya; kok bisa ya?
Ringkasan lain tentang Tragedi Si Penipu atau Anggota Dewan