FSUA, Katak di bawah Gelas
OLEH Nasrul Azwar Tiga edisi harian Singgalang, tangga19, 26, 28
Februari 2006, menurunkan artikel yang ditulis
Ade Efdira, Melda Riani,
dan Chandra Antoni. Ketiganya “
orang dalam” yang pernah menerima “serat
ilmu” di kampus Fakultas Sastra Universitas Andalas (FSUA). Inti
pemikiran yang dituangkan Ade Efdira adalah kekecewaan yang telah
terakumulasi sejak pantatnya pertama kali terhenyak di bangku FSUA
sampai menyadari bahwa sesungguhnya ia tidak mendapatkan
apa-apa
dari kampus
itu selain deretan nilai yang akan diadu dengan lulusan fakultas
sejenis di tempat lain.
Tulisan Ade Efdira provokatif sekaligus
menggugat. Melda Riani tak lebih penekanan kepada apa yang telah
diucapkan Ade Efdira dengan bahasa yang persuasif. Sedangkan Chandra
Antoni sebagian besar ditekankan pada penolakan terhadap apa yang
ditulis Ade Efdira. Tapi, terlepas dari itu, apa yang disampaikan
ketiga orang ini tetap berada dalam frame mempertanyakan posisi, fungsi, kontribusi, dan kemampuan akademis serta intelektualitas para penghuni kampus FSUA itu. Bagi
saya, apa yang ditulis ketiga orang itu bukan perkara main-main. Dan,
tentu, diharapkan juga tulisan itu tidak dipandang dari sudut siapa
yang menulis, tetapi mestinya dipahami dari sudut dan perspektif content yang
disampaikan. Ini perlu saya sampaikan karena informasi yang saya
peroleh, beberapa orang pengajar di FSUA seperti kebakaran jenggot
membaca tulisan Ade Efdira, dan memvonis tulisan itu kekanak-kanakan.
Mereka melayangkan short messages service (SMS) ke radaktur Singgalang,
yang isinya menyayangkan mengapa tulisan seperti itu dimuat. Informasi
itu saya terima sembari mengatakan malah mereka itu yang tampak
kekanak-kanakan. Sempit, kerdil, dan naif.
Ringkasan lain tentang FSUA, Katak di bawah Gelas