OLEH Nasrul Azwar Jika
Sumatra Barat masih tetap dilindungi Sang Pencipta, di pengujung tahun
2006
ini para seniman, pekerja seni, budayawan, intelektual, pemikir,
dan tokoh-tokoh adat, dan lain sebagainya
akan merayakan kehebatan
Minangkabau. Pada Pekan Budaya (juga sebagian menyebutnya dengan
Festival Minangkabau) dengan sangat suka ria akan tampil karya-karya master piace
seniman Sumatra Barat dari beragam cabang, tentunya. Jika usia kita diberi Sang
Pencipta usia sampai di ujung tahun ini, kita akan menikmati mahakarya
para pegiat seni di daerah Pemerintah
Provinsi Sumatra Barat lewat Dinas Pariwisata, Seni, dan Budaya telah
menganggarkan dana untuk itu. Seperti biasanya, seniman dan pekerja
seni tetap berada dalam ketiak-ketiak para
birokrat itu. Seperti
bisanya pula, pola dan pelaksanaannya tidak pernah lepas dari tangan
birokrat di jajaran Dinas Parsenibud dengan modal SK Gubernur yang
memuat orang-orangnya segerombak “tundo”. Pola demikian, sampai dunia
ini mengecil tampaknya tidak akan pernah berubah. Seniman dan pekerja
seni, sampai bumi ini mengeriput
juga akan berada di bawah kaki para
birokrat itu. Hal demikian terus berlangsung. Maka, tetap menganga juga
para seniman dan bercarut pungkang memaki para birokrat itu. Sementara,
birokrat tersenyum dikulum-kulum. Pekan
Budaya—atau apalah namanya—memnag dikesankan sebagai iven kelanjutan
dari Pekan Budaya yang sebelumnya pernah digelar di Sumatra Barat.
Tujuannya dasarnya adalah mendenyutkan aktivitas seni dan budaya
Minangkabau sebagai aset kebudayaan yang pantas dilestarikan dan
dijaga, terutama kesenian tradisi, juga, tentu saja, arahnya untuk
menarik hati wisatawan mancanegara dan lokal agar datang ke daerah ini.
Maka, Festival Minangkabau dimungkinkan sebagai iven yang
mengentalpekatkan aspek-aspek wisata di dalamnya.
Ringkasan lain tentang Pekan Budaya Birokrat