OLEH Nasrul Azwar Orang Minang mulai menerbitkan surat kabar bernama Bintang Timor
semenjak Desember 1864 lalu dengan menggunakan bahasa Melayu, semua
orang sudah tahu. Tapi, tidak semua orang bahwa Kota Padang termasuk
salah satu kota
pers tertua di Sumatra. Seperti
yang ditulis Suryadi (2001), sepanjang paroh kedua
abad ke-19 sampai
paruh pertama abad ke-20, seperti yang dicatat Ahmat Adam
dalam artikelnya “The Vernacular Press in Padang, 1865-1913”, puluhan surat
kabar pribumi bermunculan di Padang, tak kurang dari 29 surat kabar
daerah telah terbit di Padang dalam periode 1865-1913, dan banyak lagi
yang terbit setelah periode itu. Kini,
di Sumatra Barat, semenjak Presiden Soeharto digulingkan pada 21 Mei
1998–di awal abad 21 ini—tercatat 52 buah penerbitan pers hingga akhir
tahun 2003—terlepas dari jatuh bangunnya dunia pers itu. Kondisi
masing-masing periode
itu tentu berbeda sesuai kondisi zamannya, baik
itu perbedaan sisi idealisme persnya maupun kepentingan serta latar
belakang penerbitan pers itu.
Masa lalu tetap sebagai masa lalu. Juga sebaliknya, masa sekarang adalah
saat kini. Keterkaitannya adalah spirit dan representasi masyarakat
yang melingkunginnya. Beberapa pendapat mengatakan kondisi pers saat
sekarang telah kehilangan spirit dan idealismennya. Tak lebih sebagai
ruang reportase aktivitas kekuasaan. Sikap pers yang terbit di Sumatra
Barat adalah sikap kepentingan kekuasaan dan pengusaha, dan borjuistif.
Pers di Sumatera Barat tidak menguatkan sejarahnya sendiri. Pers yang
lahir di Sumatra Barat seperti kehilangan identintifikasinya sejalan
dengan perkembangan ruang, waktu, dan konteksnya.
Ringkasan lain tentang Dusta dalam Pers