OLEH Nasrul Azwar Jika
tak ada kendala yang berarti, pada 23-25 Agustus 2004, jurusan Sastra
Daerah Program Studi Bahasa-Sastra-Budaya Minangkabau Fakultas Sastra
Universitas Andalas akan melaksanakan
seminar bertaraf internasional.
Dari informasi yang didapat, seminar ini mengapungkan tema ‘Kebudayaan
Minangkabau: Potensi, Pewarisan, dan Pengembangannya dalam Paradigma
Multikultural’. Selanjutnya, diikuti
dengan sub-sub tema, antara lain,
‘Potensi budaya
etnik (agama, tradisi, sejarah, kesenian, dan lainnya)
dan prospek pengembangannya dalam konteks otonomi daerah, dalam menata
masyarakat baru dan peningkatan kesejahteraan ekonomi melalui
pariwisata budaya: Kasus Sumatra Barat dan komparasinya dengan daerah
lain di Indonesia, bangsa serumpun, dan dunia)’. Membaca
tema yang diapungkan, memang memiliki relevansi dengan kondisi kekinian
bangsa Indoensia, terutama yang terkait dengan budaya etnik, sekaligus
Potensi yang ada di dalamnya. Akan tetapi, mengangkat kebudayaan
Minangkabau sebagai tema sentralnya, atau katakanlah sebagai “kasus”,
mengesankan adanya “potensi” kekhawatiran, malah kecemasan akan masa
depan eksistensi budaya salah satu etnik di Nusantara ini. Akan tetapi,
dari dasar pemikiran yang ditulis panitia di brosur, tidak memaparkan
argumen yang mendasar, mengapa kebudayaan Minangkabau yang diangkat
dalam tema seminar berskala internasional itu? Padahal, problem serupa
(mungkin) terjadi juga pada budaya etnik di daerah lainnya. Jika ada
alasan yang tidak “dibunyikan”, misalnya, karena seminar ini
diselenggarakan oleh jurusan Sastra Daerah (Minangkabau), jelas sekali
sangat paradoks dan bertolak belakang dengan skala dan cakupan seminar,
yakni internasional. Kandungan maknawi dari tema itu sendiri, malah
sangat mengesankan mempersempit space komparasi kulrural.
Karena ruang lingkupnya telah diperkecil dengan pilihan frase
‘Kebudayaan Minangkabau’. Tentu, alangkahnya cerdasnya, jika
‘Minangkabau’ itu diganti dengan ‘Lokal’, ‘Etnik’, atau ‘Melayu’,
misalnya.
Ringkasan lain tentang Membaca Probelem Kultural yang Berjarak