Sekolah Air Mata
OLEH Nasrul AzwarNamanya
Dimas Gumilar Taufik, siswa SMA kelas II IPS Sandy Putra, Bandung.
Matanya tampak memerah dan berkaca-kaca menyiratkan sesuatu yang tidak
sulit untuk dimaknai. Dia berdiri dalam barisan bersama temannya. Dia
gelisah. Tiap sebentar menoleh kiri-kanan.Saat yang sama, di
lapangan Kiarapayung, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat,
Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono melangkah menuju podium. Dia
akan memberi sambutan
pembukaan Jambore Nasional 2006, Minggu, 16 Juli 2006.Setelah
Presiden berdiri dan tersenyum di podium khusus yang dibawa dari
Jakarta, Dimas Gumilar Taufik berlari meninggalkan barisan pramuka. Tak
seorang pun yang mengetahui
apa yang akan dilakukan siswa ini.
Sesampainya di podium, dia langsung menyerahkan sebuah map putih
kepada Presiden tanpa berkata-kata. Malu, tapi harus dilakukan. Aksi
mengejutkan ini ternyata luput dari pengawasan pasukan pengamanan
presiden (paspampres).Ada apa gerangan? Menapa Dimas begitu nekat
menghampiri presiden? Apa yang diinginkannya? Ternyata aksi yang
dilakukan Dimas hanyalah meminta bantuan biaya
Sekolah kepada Presiden.
Dimas Gumilar Taufik mengatakan, dirinya sangat ingin sekolah dan
menuntut banyak ilmu. Apa mau dikata kedua orangtuanya menganggur tanpa
pekerjaan. Dirinya bingung hendak meminta bantuan pada siapa.
Saudaranya juga sama-sama susah dan miskin.Aksi siswa cerdas dan
aktif ini, memang sengaja dilakukannya dan sudah dipersiapkan
sebelumnya. Terbetik pikiran menyampaikan masalahnya langsung kepada
Presiden. Toh bukan aksi kejahatan, bukan pula salah kirim. Ia berikan
langsung kepada Presiden, karena di tangannyalah nasib pendidikan
jutaan anak bangsa, termasuk dirinya.Tidak sesuai prosedur? Memang, tapi ia sadar jika sesuai prosedur, suratnya tidak akan sampai ke tangan Presiden.
Ringkasan lain tentang Sekolah Air Mata