Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Rabun Senja, Buta Sejarah

.

Rabun Senja, Buta Sejarah

Summary rating: 3 stars 3 Tinjauan
Pengarang : Nasrul Azwar
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 306  kata: 300   Diterbitkan di: Juli 25, 2007
Rabun Senja, Buta Sejarah









OLEH Nasrul AzwarApa
yang membuat Minangkabau terpeta dengan tinta emas dalam sejarah
kehidupan intelektual di Nusantara ini—taruhlah, misalnya, jauh sebelum
bangsa Belanda masuk, atau saat Islam bertegur sapa dengan adat dan
tradisi kulturalnya pada awal abad ke 16 M—tak lain karena kultur
Minangkabau yang sangat fleksibel dan keterbukaan berpikir.
Karakteristik yang unik dari masyarakat Minangkabau adalah kemampuan
mengelola sistem budaya matrilineal dan memaknai filosofi adatnya,
sehingga ideologi dan paham jenis apa saja yang masuk ke ranah ini,
tidak ada masalah. Ideologi kiri, kanan, tengah, malah paham gado-gado.Pada
tahun 20-an, secara nyata berkembang berbagai aliran ideologi di ranah
Minang termasuk paham komunis radikal yang berlanjut dengan
pemberontakan komunis pada 1926-1927 di Silungkang. Pada 1940-an
tercatat beberapa partai politik Islam di Minangkabau bergenggaman erat
dengan koalisi komunis radikal. Semuanya berjalan dengan baik:
menghormati paham dan mengharagai perbedaan ideologi itu tanpa
kecurigaan.Masa-masa seperti itu bukan saja berjalan dengan penuh
keharmonisan, lebih jauh lagi membuka lebih luas dialektika masyarakat
Minangkabau dalam menata pola pendidikan. Misal, pada akhir periode
penjajahan Belanda—saat itu rasa nasionalisme Indonesia mengakar kuat
pada masyarakat Minangkabau—tercatat jumlah institusi lembaga
pendidikan dasar, menengah, dan lain sebagainya, jumlahnya jauh
melampuai kawasan lain di Indonesia. Di mana-mana muncul institusi
pendidikan yang sangat berpengaruh dalam menentukan arah dan quo vadis
negeri ini. Minangkabau saat itu seperti sebuah “tangki pemikiran”
Indonesia dalam konteks Indonesia dan menempatkan Sumatra Barat pada
posisi yang sangat penting. Akan tetapi, karena pola menata Indonesia
bertolak belakang dengan pola kekuasaan yang dianut penguasa dengan
kultur feodalisme, maka terjadilah pertentangan dan “perlawanan”
terhadap pemerintah pusat. Meletusnya PRRI pada tahun 1958 sebagai
manifestasi perlawanan itu.

Ringkasan lain tentang Rabun Senja, Buta Sejarah
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------