Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Pendidikan untuk yang Kaya Raya

Pendidikan untuk yang Kaya Raya

oleh: NasrulAzwar     Pengarang : Nasrul Azwar
ª
 
OLEH Nasrul AzwarJika Anda mau sedikit bekerja keras dan membuka lembaran surat-surat kabar yang terbit di Sumatra Barat dalam rentang bulan April-Mei 2004, maka Anda akan menemukan kalimat-kalimat seperti ini: “Jika saya terpilih menjadi anggota DPRD, saya akan membebaskan biaya pendidikan. Orangtua tidak perlu lagi memikirkan biaya pendidikan anak-anaknya. Semua gratis! Maka, pilihlah saya pada pemilu nanti.”Saat kampanye pemilu, kalimat demikian tidak asing di telinga kita. Janji-janji itulah yang dilontarkan para calon legislatif di lapangan bola, aula, di sudut-sudut galanggang nagari, dan di mana saja jika ada kesempatan. Kalimat itu menjadi headline di surat-surat kabar atau paling tidak berdiri mencolok di rubrik-rubrik advetorial. Saat itu mereka membutuhkan dukungan dari publik, dan tampaknya, adigium pendidikan gratis bisa menjadi komodifikasi dalam bursa politik untuk menggenjot raihan perolehan suara.Kini, 2 tahun telah berlalu. Yang pernah berjanji itu telah 2 tahun pula duduk di kursi dewan legislatif dengan fasilitas lumayan mewah dari negara. Merela digaji cukup lumayan besar untuk ukuran penghasilan rata-rata rakyat Sumatra Barat, diberi tunjangan, jaminan ini-itu, ada juga uang insentif kungker, rapat ini-itu, dan lain sebagainya. Pokoknya, mereka tidak perlu pusing-pusing memikirkan “pitmas”, semua sudah oke.Lalu, bagaimana dengan janji mereka tentang pendidikan gratis itu? Tak usah pikirkan, karena mereka tidak memikirkan itu lagi. Saat kini mereka sedang merayakan hasil kebohongan itu dengan bungkus sebagai wakil rakyat. Berteriak melebihi bunyi petus untuk menagih janji mereka, jangan harap mereka dengar. Datang ke kantor mereka buat menagih janji-janji itu, jangan berpikir mereka akan membuka pintu lebar-lebar. Semua seperti membenturkan sesuatu ke dinding batu.
Diterbitkan di: 25 Juli, 2007   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.