Minangkabau, Balok Es yang Meleleh
OLEH Nasrul Azwar Suatu hari teman saya mem-posting sebuah cerita ke
e-
mail saya. Inti cerita di e-mail itu katanya, penting untuk melihat
kondisi masyarakat Minangkabau, baik yang
ada di rantau maupun di
kampung halamannya. Cerita e-mail teman saya itu begini: "Usman Chaniago, seorang pemuda bekerja sebagai supir camat di Payakumbuh. Suatu hari ia minta berhenti karena akan merantau ke Jakarta
untuk mengadu nasib. Usman Chaniago menganggap, menjadi supir camat
tidak bergengsi dan dipandang rendah di kampungnya. Lalu dia merantau
ke Jakarta
seperti kebanyakan pendahulunya. Mula-mula dia bekerja sebagai tukang
kantau di Tanah Abang. Perlahan-lahan, Usman Chaniago dapat
mengumpulkan sedikit modal, lalu dimulai pula menggelar dagangannya di
pinggir jalan di Tanah Abang. Nasib
rupanya memihak kepadanya, beberapa tahun kemudian dia berhasil
memiliki kios kain di dalam pasar. Dia pun berkeluarga dan memiliki 2
anak. Tahun ini dia membangun rumah di Depok, di lingkungan perumahan
dosen UI. Karena tetangganya semua akademisi, macam-macam gelarnya
terpampang di pintu rumah mereka: ada Prof, Phd. M.Sc, M.Si, dan
lain-lain. Usman Chaniago merasa
malu kalau papan namanya tidak
tercantum gelar seperti tetangganya. Dibuatlah
papan nama dari perak, dipesan dari Koto Gadang, salah satu nagari di
Kabupatena Agam yang terkenal
dengan kerajinan peraknya, dengan nama Dr. Usman Chaniago M.Sc. Ketika ayahnya datang berkunjung ke rumahnya, taragak
hendak berjumpa dengan cucunya, sambil bangga dia bertanya di mana
anaknya kuliah, sebab setahu ayahnya, anaknya hanya berdagang. Dengan
malu-malu Usman Chaniago menerangkan gelarnya di papan nama: "Disiko Rumahnyo Usman Chaniago Mantan Supir Camat dengan singkatan Dr. Usman Chaniago M.Sc." Saya
tersenyum habis membaca e-mail itu. Di dalamnya ada persoalan
kreativitas dan kekonyolan, juga ada "nilai" yang menyangkut prestise
dan pentingnya "status" sosial di tengah masyarakat.
Ringkasan lain tentang Minangkabau, Balok Es yang Meleleh