Hal ini menimpa penerbangan orang tua saya bersama dengan
kakek dan nenek pulang dari Singapura sore hari dengan maskapai ini. Pemilihan maskapai
ini karena harga yang sangat masuk di akal dengan bagasi yang lumayan besar
untuk ukuran per penumpang di bandingkan dengan maskapai murah lain.
Mereka berangkat dari Changi sekitar pukul 3 sore waktu
Jakarta dengan masing-masing kursi roda untuk kakek dan nenek saya yang sudah
mengalami kesulitan berjalan karena umur yang tua.Tidak ada masalah selama penerbangan, bahkan
mereka mendapatkan tempat duduk yang cukup depan. B737-900 itu mengudara dan
mendarat pada waktu yang tepat karena tidak mengalami delay selama di bandara Singapura. Namun begitu mendarat mereka
mencium “gelagat” bahwa pesawat tampaknya tidak akan parkir di samping gedung
terminal. Dan benar saja ketika pesawat berbelok ke area parkir terbuka. Pilot
memang sempat meminta maaf karena parkir yang merapat ke gedung terminal sedang
penuh. Padahal menurut mamaku menyebukan bahwa ruang terminal banyak yang
kosong dan tidak terpakai, Dari sini saya menduga ada 2 point: 1. Benar-benar
penuh/di charter maskapai pesawat laindan 2. Memang parkir merapat ke gedung terminal lebih mahal biayanya.
Mamaku sedikit kaget dan histeris meminta agar pesawat
merapat ke arah terminal. Sebenarnya di dalam pesawat masih ada sepasang suami
istri di mana istrinya sepertinya juga mengalami kaki sakit/keseleo yang
membutuhkan bantuan kereta dorong. Tetapi juga terpaksa harus turun dengan
tangga dan menggunakan bus jemputan bandara maskapai yang memiliki pijakan
cukup tinggi. Nah sekarang giliran kakek
dan nenek saya. Mereka benar-benar kesulitan untuk menuruni tangga pesawat dan
juga menaiki bus. Kakek saya masih berhasil menaiki bus tinggi walaupun dengan
susah payah dan sepertinya kakinya melemas. Untung ada sesama penumpang di
dalam bus yang membantu kakekku untuk menaiki bus. Lain lagi dengna nenekku
mengalami kesulitan memanjati bus. Karena beratnya juga tidak memungkinkan dan
juga tua hampir membutuhkan beberapa menit untuk membantunya menaiki kabin bus.
Hampir tidak ada satupun karyawan dari pihak maskapai Lion Air yang tergerak
untuk membantu selama di lapangan.
Jeleknya lagi bus tersebut tidak memiliki anak tangga sebagai
pijakan masuk melalui pintu bus. Bayangkan saja pintunya dari tanah setinggi
hampir ½ meter dari permukaan tanah. Bus pun berangkat dan kita turun di
terminal. Nah di sini lagi tidak ada kursi roda seperti yang kita pesan ketika memesan
tiket pesawat terbang di Singapura. Menuruni bus pun sudah cukup empot-empotan.
Kedua kaki kakek nenekku lemas sehingga tidak kuat untuk melanjutkan jalan ke
terminal lebih jauh. Mamaku menanya kepada petugas di mana bisa meminta kursi
roda terdekat dan sedang dalam proses perjalanan. Di tunggu hampir sekitar 5
menit dan tidak ada petugas dari Lion Air yang datang dengan dua kursi roda
seperti yang di minta. Mamaku mulai panik dan meminta ke counter terdekat
mengenai perihal ini. Salah satunya adalah melalui counter Garuda Indonesia.
Ketika petugas Garuda Indonesia mengetahui bahwa mereka penumpang Lion Air
mereka seperti tidak acuh dan merujuk mamaku untuk langsung ke counter Lion Air
yang terletak di ruang tunggu keberangkatan.
Beberapa petugas di sana menyebutkan bahwa Lion Air sering
menelantarkan penumpangnya beberapa kali seperti itu. Mamaku sampai memohon
kepada salah seorang pramugari Garuda Indonesia yang kebetulan sedang berdiri
tegak di depan gerbang pendaratan pesawat untuk kursi roda. Pramugari ini
dengan tegas mengatakan bahwa masalah di Lion Air tidak ada sangkut pautnya
dengan Garuda Indonesia dan menolak memberikan bantuan. Dari sini terkesan
walaupun kedua maskapai berdampingan tetapi urusan operasional tetaplah
merupakan urusan RT masing-masing maskapai.
Setelah hampir 1 jam yakni sekitar pukul 5 sore waktu
Indonesia Barat, kedua kakek nenekku masing-masing dapat kursi roda dan di
dorong oleh kedua petugas Lion Air hingga ke luar terminal. Di ruang tunggu
bagasi, petugas lainnya telah berbaik hati mengumpulkan semua bagasi mereka
yang merupakan bagasi yang paling terakhir dalam troli sehingga tinggal di
drorong keluar dari terminal. Salah satu petugasnya memang sempat bilang, bahwa
kalau berbaik hati memeberikan petugas yang telah mengumpulkan bagasi sedikit
insentif kepada mama saya. Namun kelihatannya petugas itu menolaknya.
Sepertinya mereka menyadari bahwa mereka mengakui bahwa telah melakukan
kesalahan.
Ini semoga untuk lain kali maskapai Lion Air memperbaiki
layanannya. Untuk penumpang yang merupakan orang yang tua dan susah berjalan
walaupun terpaksa pesawat harus berhenti di tarmak terbuka. Sediakan kendaraan
yang memiliki kabin yang rendah atau dekat ke tanah. Ini menjadi sebuah
pelajaran tersendiri.
Penilaian Lainnya
Dari sisi kabin pesawat hanya satu yang di sayangkan yaitu jarak antar bangku yang sangat sempit(mirip dengan naik bus PPD). Untung jaraknya pendek, kalau tidak bisa jetlag atau blood coth sustain(tersumbatnya pembuluh darah karena terlalu lama duduk). Tapi itu di maklumi karena memang harga tiket murah, satu-satunya buat perusahaan balik modal per terbang adalah volume penumpang. Walaupun di sebut-sebut menggunakan radar cuaca terbaru dalam menghindari turbulensi, sepertinya pesawat tetap saja tergoncang akibat turbulensi. Entah itu karena perintah dari menara meminta pilotnya untuk menembus turbulensi itu sendiri atau karena masalah teknis yakni tidak terdeteksi turbulensi itu sendiri. Selain itu Air Conditioner dalam kabin terasa sejuk hingga kadang dingin menggigil(bisa di atur sendiri semprotan kipasnya yang di atas kursi). Sementara itu tempat penyimpanan bagasi kecil(koper) yang terletak di sepanjang kanan kiri koridor tunggalnya terasa sedikit kurang sreg. Bagaimana tidak, jika melihat pintu buka tutup bagasinya sendiri di jadikan tempat untuk meletakkan koper-koper yang cukup berat dari beberapa penumpang. Satu hal yang paling menyeramkan adalah pintu penutup buka bagasinya patah dan menegenai kepala penumpang yang kebetulan duduk di bawahnya.
Untuk maskapai ini sejauh ini saya memberikan nilai 7,9 dari
10.