Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Produk>Otomotif>Pengalaman Buruk I kali Terbang Bersama Lion Air

Pengalaman Buruk I kali Terbang Bersama Lion Air

oleh: Wing_Man    
ª
 

Hal ini menimpa penerbangan orang tua saya bersama dengan kakek dan nenek pulang dari Singapura sore hari dengan maskapai ini. Pemilihan maskapai ini karena harga yang sangat masuk di akal dengan bagasi yang lumayan besar untuk ukuran per penumpang di bandingkan dengan maskapai murah lain.


Mereka berangkat dari Changi sekitar pukul 3 sore waktu Jakarta dengan masing-masing kursi roda untuk kakek dan nenek saya yang sudah mengalami kesulitan berjalan karena umur yang tua.Tidak ada masalah selama penerbangan, bahkan mereka mendapatkan tempat duduk yang cukup depan. B737-900 itu mengudara dan mendarat pada waktu yang tepat karena tidak mengalami delay selama di bandara Singapura. Namun begitu mendarat mereka mencium “gelagat” bahwa pesawat tampaknya tidak akan parkir di samping gedung terminal. Dan benar saja ketika pesawat berbelok ke area parkir terbuka. Pilot memang sempat meminta maaf karena parkir yang merapat ke gedung terminal sedang penuh. Padahal menurut mamaku menyebukan bahwa ruang terminal banyak yang kosong dan tidak terpakai, Dari sini saya menduga ada 2 point: 1. Benar-benar penuh/di charter maskapai pesawat laindan 2. Memang parkir merapat ke gedung terminal lebih mahal biayanya.


Mamaku sedikit kaget dan histeris meminta agar pesawat merapat ke arah terminal. Sebenarnya di dalam pesawat masih ada sepasang suami istri di mana istrinya sepertinya juga mengalami kaki sakit/keseleo yang membutuhkan bantuan kereta dorong. Tetapi juga terpaksa harus turun dengan tangga dan menggunakan bus jemputan bandara maskapai yang memiliki pijakan cukup tinggi. Nah sekarang giliran kakek dan nenek saya. Mereka benar-benar kesulitan untuk menuruni tangga pesawat dan juga menaiki bus. Kakek saya masih berhasil menaiki bus tinggi walaupun dengan susah payah dan sepertinya kakinya melemas. Untung ada sesama penumpang di dalam bus yang membantu kakekku untuk menaiki bus. Lain lagi dengna nenekku mengalami kesulitan memanjati bus. Karena beratnya juga tidak memungkinkan dan juga tua hampir membutuhkan beberapa menit untuk membantunya menaiki kabin bus. Hampir tidak ada satupun karyawan dari pihak maskapai Lion Air yang tergerak untuk membantu selama di lapangan.


Jeleknya lagi bus tersebut tidak memiliki anak tangga sebagai pijakan masuk melalui pintu bus. Bayangkan saja pintunya dari tanah setinggi hampir ½ meter dari permukaan tanah. Bus pun berangkat dan kita turun di terminal. Nah di sini lagi tidak ada kursi roda seperti yang kita pesan ketika memesan tiket pesawat terbang di Singapura. Menuruni bus pun sudah cukup empot-empotan. Kedua kaki kakek nenekku lemas sehingga tidak kuat untuk melanjutkan jalan ke terminal lebih jauh. Mamaku menanya kepada petugas di mana bisa meminta kursi roda terdekat dan sedang dalam proses perjalanan. Di tunggu hampir sekitar 5 menit dan tidak ada petugas dari Lion Air yang datang dengan dua kursi roda seperti yang di minta. Mamaku mulai panik dan meminta ke counter terdekat mengenai perihal ini. Salah satunya adalah melalui counter Garuda Indonesia. Ketika petugas Garuda Indonesia mengetahui bahwa mereka penumpang Lion Air mereka seperti tidak acuh dan merujuk mamaku untuk langsung ke counter Lion Air yang terletak di ruang tunggu keberangkatan.


Beberapa petugas di sana menyebutkan bahwa Lion Air sering menelantarkan penumpangnya beberapa kali seperti itu. Mamaku sampai memohon kepada salah seorang pramugari Garuda Indonesia yang kebetulan sedang berdiri tegak di depan gerbang pendaratan pesawat untuk kursi roda. Pramugari ini dengan tegas mengatakan bahwa masalah di Lion Air tidak ada sangkut pautnya dengan Garuda Indonesia dan menolak memberikan bantuan. Dari sini terkesan walaupun kedua maskapai berdampingan tetapi urusan operasional tetaplah merupakan urusan RT masing-masing maskapai.


Setelah hampir 1 jam yakni sekitar pukul 5 sore waktu Indonesia Barat, kedua kakek nenekku masing-masing dapat kursi roda dan di dorong oleh kedua petugas Lion Air hingga ke luar terminal. Di ruang tunggu bagasi, petugas lainnya telah berbaik hati mengumpulkan semua bagasi mereka yang merupakan bagasi yang paling terakhir dalam troli sehingga tinggal di drorong keluar dari terminal. Salah satu petugasnya memang sempat bilang, bahwa kalau berbaik hati memeberikan petugas yang telah mengumpulkan bagasi sedikit insentif kepada mama saya. Namun kelihatannya petugas itu menolaknya. Sepertinya mereka menyadari bahwa mereka mengakui bahwa telah melakukan kesalahan.


Ini semoga untuk lain kali maskapai Lion Air memperbaiki layanannya. Untuk penumpang yang merupakan orang yang tua dan susah berjalan walaupun terpaksa pesawat harus berhenti di tarmak terbuka. Sediakan kendaraan yang memiliki kabin yang rendah atau dekat ke tanah. Ini menjadi sebuah pelajaran tersendiri.


Penilaian Lainnya


Dari sisi kabin pesawat hanya satu yang di sayangkan yaitu jarak antar bangku yang sangat sempit(mirip dengan naik bus PPD). Untung jaraknya pendek, kalau tidak bisa jetlag atau blood coth sustain(tersumbatnya pembuluh darah karena terlalu lama duduk). Tapi itu di maklumi karena memang harga tiket murah, satu-satunya buat perusahaan balik modal per terbang adalah volume penumpang. Walaupun di sebut-sebut menggunakan radar cuaca terbaru dalam menghindari turbulensi, sepertinya pesawat tetap saja tergoncang akibat turbulensi. Entah itu karena perintah dari menara meminta pilotnya untuk menembus turbulensi itu sendiri atau karena masalah teknis yakni tidak terdeteksi turbulensi itu sendiri. Selain itu Air Conditioner dalam kabin terasa sejuk hingga kadang dingin menggigil(bisa di atur sendiri semprotan kipasnya yang di atas kursi). Sementara itu tempat penyimpanan bagasi kecil(koper) yang terletak di sepanjang kanan kiri koridor tunggalnya terasa sedikit kurang sreg. Bagaimana tidak, jika melihat pintu buka tutup bagasinya sendiri di jadikan tempat untuk meletakkan koper-koper yang cukup berat dari beberapa penumpang. Satu hal yang paling menyeramkan adalah pintu penutup buka bagasinya patah dan menegenai kepala penumpang yang kebetulan duduk di bawahnya.


Untuk maskapai ini sejauh ini saya memberikan nilai 7,9 dari 10.

Diterbitkan di: 19 September, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    saya berencana terbang sama orang tua saya yang sudah mengunakan kursi roda,gimana ya apa kursi roda itu boleh dibawa ke dalam pesawat atau mesti di taruh bagasi mohon jawabanya?terimakasih ( 1 Jawaban ) Lihat semua
  1. Jawaban  :    harusnya sih bagasi. sepertinya masuk ke pesawat pakai kursi roda yang di sediakan pihak bandara..... 17 Nopember 2012
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    aku berencana melakukan perjalanan mengunakan sriwijaya air dari yogya ke jakarta bareng bapaku yang sudah kesulitan untuk berjalan sehingga memang mesti menggunakan kursi roda bagaimana sebaiknya ( 1 Jawaban ) Lihat semua
  1. Jawaban  :    hmm, ini mesti tanya sama yang berpengalaman dengan maskapai ini. coba googling aja... 09 Maret 2012
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.