Para reporter, pejabat dan insinyur tampak was-was memperhatikan dari jauh ketika sebuah pesawat tempur multi peran F/A-18 F Superhornet berbelok memasuki landasan pacu. Beberap reporter dan kameraman tampak bersiap mencatat dan merekam momen ini.
Beberapa menit kemudian Afterburner Superhornet menyala dan pesawat berpacu dengan kecepatan tinggi di atas landasan sebelum meninggalkan bumi. Saat itu cuaca kurang bersahabat dengan awan tebal yang rendah.
Beberapa kendaraan lapis baja rongsokan termasuk di dalamnya sebuah peluncur rudal kendali tidak terpakai di siapkan di tengah lapangan. Hujan mulai turun.
Para pengamat dan Insinyur dari sebuah gedung dengan jarak aman. Para awak dan operator telekomunikasi darat berada di samping melakukan komunikasi dua arah dengan para pilot dari tim penguji. Sebuah monitor yang mengirimkan gambar live dari sebuah pesawat pengekor yang di kirim ke atas untuk merekam detik2 peluncuran rudal JAGM II dari relnya.
Superhornet di perintahkan untuk meluncurkan JAGM begitu sasaran di darat terkunci. Rudal meluncur dan beberapa saat kemudian muncul dari balik awan tebal dan menghantam dengan telak sebuah kendaraan peluncur rudal darat ke udara.
Tepuk tangan meriah menghiasi ruangan ketika laporan teknisi di lapangan mengatakan bahwa target hancur.
Begitulah sedikit cuplikan detik-detik peluncurannya. Tim Boeing - Raytheon ingin memastikan 2 jenis produknya yakni kendaraan yaog mampu mengukur keefektifan peluncuran dan rudal kendali JAGM itu sendiri.
JAGM singkatan dari Joint Attack Ground Munition merupakan rudal penjejak sasaran dengan menggunakan 3 metode yang bekerjasama dalam menghantam sasaran di darat maupun laut. Penjejak laser semi active, pencitraan inframerah dan pemandu radar milimeter menjadikannya sebagai rudal pintar dengan kemungkinan meleset dari sasaran kurang dari 1 persen dalam cuaca yang ekstrem.
Raytheon sendiri sedang mengerjakan bom berdiameter mini versi lanjutan dengan 3 metode penjejak termasuk di dalamnya pod peluncurnya.
Wakil presiden Raytheon, Bob Francois memuji tim gabungan ini berkata rancangan yang simple dan harga terjangkau. Team JAGM mengatakan akan melakukan uji coba lagi pada 3 macam lingkungan yang berbeda yakni pada cuaca yang sangat ekstrem, di bawah kecepatan(mendekati kecepatan stall speed) dan penuh turbulensi.
Menurut pihak pabrikan, rudal ini di rancang untuk memberikan 3 macam keunggulan bagi pesawat tempur yakni daya pukul, jarak, pengoperasian fleksible(di luncurkan dari berbagai macam platform), saling mendukung dan berbiaya rendah seperti di bandingkan dengan rudal hellfire(biasanya di luncurkan dari heli serbu dan pesawat tak berawak).
JAGM II yang sedang di godok oleh Raytheon dan Boeing akan menggantikan rudal-rudal penjejak emisi, AGM-88 HARM.